Human Risk Management Institute

Investasi Human Risk vs Incident Response: Mana yang Lebih Efisien?

Written by Nur Rachmi Latifa | 14 Jan 2026

Keamanan siber bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan fondasi utama dalam menjaga kepercayaan, kontinuitas bisnis, dan keberlangsungan operasional perusahaan. Dengan meningkatnya frekuensi serangan siber dan kompleksitas ancaman, perusahaan dituntut untuk mengambil keputusan strategis, salah satunya dalam hal investasi keamanan siber. Dua pendekatan yang sering menjadi perdebatan strategis adalah Investasi Human Risk dan Investasi Incident Response. Pertanyaannya: Manakah yang lebih efisien untuk meminimalkan kerugian akibat ancaman siber? Artikel ini akan membahasnya secara mendalam, termasuk bagaimana solusi seperti SiberMate dapat menjadi jawaban bagi organisasi modern.

Apa Itu Investasi Human Risk?

Investasi human risk adalah pendekatan proaktif yang fokus pada aspek manusia sebagai faktor utama risiko siber dalam organisasi. Banyak laporan industri menyatakan bahwa 80% atau lebih insiden keamanan siber bukan akibat kelemahan teknologi, tetapi karena kesalahan manusia seperti terbujuk phishing, salah klik link berbahaya, atau kurangnya kesadaran tentang ancaman digital. Human risk sendiri adalah istilah yang merujuk pada risiko yang ditimbulkan oleh perilaku manusia di dalam sistem keamanan siber. 

Ini mencakup ketidaktahuan, kebiasaan buruk, hingga kesalahan operasional yang dapat membuka pintu bagi pelaku kejahatan siber. Investasi di area ini berarti mengalokasikan sumber daya, waktu, dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan manusia, sehingga mereka tidak menjadi titik lemah tetapi justru menjadi barisan pertahanan pertama yang kuat terhadap ancaman.

Baca juga: Human Error Masih Jadi Masalah Besar—AI Bisa Jadi Jawabannya

Mengapa Human Risk Penting?

Human risk menjadi salah satu faktor paling krusial dalam keamanan siber modern karena sebagian besar insiden justru berawal dari perilaku manusia, bukan dari kegagalan teknologi semata. Berikut penjelasan utamanya:

  1. Faktor Utama Insiden
    Berbagai statistik dan praktik di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas insiden keamanan siber melibatkan human risk. Kurangnya pelatihan yang berkelanjutan sering kali menjadi akar penyebab kebocoran data, mulai dari salah klik tautan berbahaya hingga kelalaian dalam menangani informasi sensitif.
  2. Kesadaran Menjadi Pertahanan
    Ketika karyawan memiliki kesadaran terhadap ancaman seperti phishing dan social engineering, mereka tidak lagi menjadi titik lemah, melainkan berubah menjadi lapisan pertahanan aktif yang mampu mengenali dan menghentikan potensi serangan sejak dini.
  3. Budaya Keamanan yang Berkelanjutan
    Pendekatan human risk tidak berhenti pada pelatihan satu kali. Fokus utamanya adalah membangun budaya kesadaran keamanan yang tertanam dalam keseharian kerja, sehingga perilaku aman menjadi kebiasaan, bukan sekadar kewajiban formal.
  4. Efisiensi Biaya
    Dengan menurunnya jumlah insiden yang bersumber dari kesalahan manusia, perusahaan dapat menghindari biaya besar yang biasanya muncul setelah insiden terjadi, seperti pemulihan sistem, investigasi, denda regulasi, dan kerusakan reputasi.

Dengan demikian, investasi human risk merupakan langkah strategis jangka panjang yang menanamkan kesadaran, kompetensi, dan perilaku aman pada setiap individu di perusahaan, sekaligus menjadi fondasi utama bagi keamanan siber yang berkelanjutan.

Apa Itu Investasi Incident Response?

Investasi incident response adalah pendekatan keamanan siber yang berfokus pada kesiapan organisasi dalam menghadapi insiden setelah insiden tersebut benar-benar terjadi. Berbeda dengan human risk yang menitikberatkan pencegahan, incident response berangkat dari asumsi realistis bahwa tidak semua serangan dapat dihindari. Oleh karena itu, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk merespons secara cepat, terstruktur, dan terkendali agar dampaknya tidak meluas ke operasional, finansial, maupun reputasi.

Dalam praktiknya, investasi incident response mencakup pengembangan kapabilitas teknis, prosedur operasional, serta koordinasi lintas fungsi. Fokusnya bukan hanya pada aspek teknologi, tetapi juga bagaimana tim bereaksi di bawah tekanan, mengambil keputusan yang tepat, dan berkomunikasi secara efektif ketika krisis terjadi. Beberapa kemampuan utama yang biasanya dikembangkan dalam investasi ini meliputi:

  • Penanganan serangan malware untuk menghentikan penyebaran dan mengisolasi sistem terdampak.
  • Investigasi forensik digital guna mengetahui akar penyebab insiden dan jalur serangan.
  • Pemulihan sistem agar layanan dan proses bisnis dapat kembali berjalan secepat mungkin.
  • Pengendalian dampak dan mitigasi kerugian, baik dari sisi operasional maupun finansial.
  • Komunikasi krisis untuk menjaga kepercayaan internal, pelanggan, dan pemangku kepentingan.

Secara strategis, investasi ini mencakup teknologi pendukung, tim respons insiden yang terlatih, serta prosedur baku (playbook) yang siap dijalankan kapan pun insiden terdeteksi. Tujuan utamanya bukan mencegah serangan sejak awal, melainkan memastikan bahwa ketika insiden terjadi, organisasi mampu mengendalikan situasi, membatasi kerugian, dan pulih dengan cepat tanpa menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih besar.

Perbandingan: Proaktif vs Reaktif

Dalam strategi keamanan siber, perbedaan paling mendasar antara Investasi Human Risk dan Investasi Incident Response terletak pada waktu dan cara organisasi menghadapi risiko. Human risk bersifat proaktif dan berupaya mencegah insiden sejak awal, sementara incident response bersifat reaktif, yaitu berfokus pada penanganan setelah insiden terjadi. Keduanya penting, tetapi memiliki karakter, tujuan, dan implikasi biaya yang berbeda.

Pendekatan proaktif pada investasi human risk menempatkan manusia sebagai titik awal penguatan keamanan. Dengan meningkatkan kesadaran, perilaku, dan kebiasaan kerja karyawan, organisasi berusaha menurunkan kemungkinan insiden terjadi. Sebaliknya, pendekatan reaktif pada investasi incident response berangkat dari kenyataan bahwa serangan bisa saja lolos, sehingga organisasi harus siap merespons dengan cepat dan tepat agar dampaknya tidak meluas. Perbedaan utama kedua pendekatan ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  • Fokus utama: Human risk berfokus pada pencegahan melalui perubahan perilaku manusia, sedangkan incident response berfokus pada respons dan pemulihan setelah insiden terjadi.
  • Nilai waktu: Human risk memberikan manfaat jangka panjang melalui budaya keamanan, sementara incident response lebih terasa pada jangka pendek hingga menengah saat krisis terjadi.
  • Dampak finansial: Investasi human risk menekan frekuensi dan biaya insiden, sedangkan incident response menekan kerugian setelah insiden tidak dapat dihindari.
  • Strategi: Human risk bersifat proaktif dan preventif, incident response bersifat reaktif dan korektif.
  • Risiko tersisa: Human risk menurunkan probabilitas insiden, sementara incident response memastikan organisasi siap menghadapi setiap insiden yang terjadi.

Pada akhirnya, perbandingan ini menunjukkan bahwa proaktif dan reaktif bukanlah pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua pendekatan yang saling melengkapi. Organisasi yang matang secara keamanan siber adalah mereka yang mampu menyeimbangkan pencegahan melalui human risk dengan kesiapan respons melalui incident response.

Mengapa Investasi Human Risk Kerap Dianggap Lebih Efisien?

Dalam konteks keamanan siber modern, pendekatan proaktif semakin dianggap lebih efisien dibandingkan pendekatan reaktif, terutama ketika organisasi menghitung biaya, dampak, dan risiko jangka panjang dari sebuah insiden. Investasi human risk hadir sebagai strategi pencegahan yang menargetkan akar masalah sebelum insiden benar-benar terjadi. Berikut alasan utamanya:

  • Menurunkan Probabilitas Insiden
    Investasi human risk membantu organisasi menekan kemungkinan insiden sejak awal dengan memperbaiki perilaku dan kesadaran karyawan. Dengan berkurangnya insiden, perusahaan dapat menghindari biaya besar yang sering kali tidak terduga, seperti kehilangan data, gangguan operasional, denda regulasi, dan kerusakan reputasi. Secara kumulatif, biaya pelatihan dan penguatan budaya human risk umumnya jauh lebih rendah dibandingkan total biaya penanganan insiden setelah terjadi.
  • Menciptakan Budaya Keamanan
    Human risk bukan sekadar program pelatihan satu kali atau sekumpulan metrik kepatuhan. Pendekatan ini membangun budaya keamanan yang melekat dalam rutinitas kerja sehari-hari karyawan, sehingga perilaku aman menjadi kebiasaan. Budaya seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan playbook incident response yang rapi, tetapi dijalankan oleh individu yang tidak memahami ancaman siber di kesehariannya.
  • Teknologi Harus Diseimbangi Manusia
    Banyak organisasi masih beranggapan bahwa teknologi seperti firewall, antivirus, atau sistem deteksi intrusi sudah cukup untuk melindungi perusahaan. Kenyataannya, teknologi hanya akan seefektif manusia yang mengoperasikannya. Dengan meningkatkan aspek human risk, organisasi memperkuat lapisan pertahanan pertama yaitu manusia sebelum teknologi keamanan menjalankan fungsinya.

Dengan demikian, investasi human risk sering dianggap lebih efisien karena tidak hanya menekan biaya dan frekuensi insiden, tetapi juga membangun fondasi keamanan jangka panjang yang membuat teknologi dan proses incident response bekerja jauh lebih optimal.

Peran SiberMate dalam Investasi Human Risk

Dalam praktiknya, investasi human risk membutuhkan pendekatan yang konsisten, relevan, dan dekat dengan keseharian karyawan. Di sinilah SiberMate berperan sebagai salah satu solusi Human Risk Management yang inovatif, dengan memadukan pendekatan AI Personal Trainer untuk Security Awareness. Alih-alih mengandalkan pelatihan konvensional yang mudah dilupakan, SiberMate dirancang untuk membangun kebiasaan aman secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga aspek manusia benar-benar menjadi kekuatan dalam strategi keamanan siber organisasi.

Secara konsep, SiberMate adalah platform keamanan siber yang berfokus pada penguatan perilaku manusia dalam menghadapi ancaman siber. Platform ini bekerja sebagai AI Personal Trainer yang membimbing karyawan secara personal dan adaptif melalui berbagai pendekatan yang terintegrasi, antara lain:

  • Interaksi harian berbasis chat yang terasa natural dan tidak mengganggu aktivitas kerja.
  • Pendidikan micro-learning adaptif yang singkat, relevan, dan mudah dicerna.
  • Pengingat tugas keamanan untuk membentuk kebiasaan aman secara konsisten.
  • Tantangan dan simulasi phishing guna melatih kewaspadaan dalam situasi nyata.
  • Analisis risiko berkelanjutan untuk memantau perkembangan dan potensi celah risiko.

Pendekatan ini menggabungkan prinsip behavioral science dengan teknologi AI, sehingga program keamanan tidak lagi sekadar formalitas tahunan, melainkan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari karyawan. Keunggulan utama investasi human risk melalui SiberMate terletak pada efektivitas dan efisiensinya. Engagement pengguna meningkat karena pembelajaran dilakukan melalui channel yang sudah akrab, seperti chat atau WhatsApp. Selain itu, pendekatan personal dan adaptif memastikan setiap individu mendapatkan materi yang sesuai dengan tingkat risiko dan kebutuhannya. 

Ditambah dengan analitik risiko real-time yang memberikan insight nyata bagi manajemen, organisasi dapat mengambil keputusan keamanan yang lebih tepat. Pada akhirnya, fokus langsung pada pencegahan human risk ini membantu perusahaan menekan frekuensi insiden sekaligus menghemat biaya dan waktu yang biasanya terserap besar dalam penanganan insiden setelah terjadi.

Apakah Investasi Incident Response Masih Relevan?

Jawabannya tetap relevan dan sangat penting. Seberapa matang pun sebuah organisasi mengelola human risk, tidak ada sistem yang benar-benar kebal terhadap insiden siber. Selalu ada kemungkinan serangan yang lolos dari lapisan pencegahan, baik karena teknik serangan baru, celah teknis, maupun kombinasi faktor manusia dan teknologi. Di titik inilah Incident Response menjadi garis pertahanan terakhir yang menentukan seberapa besar dampak insiden terhadap bisnis. Investasi incident response memastikan organisasi memiliki kesiapan operasional saat insiden benar-benar terjadi. Peran utamanya mencakup:

  • Menangani insiden yang terlewat dari fase pencegahan, sehingga kerusakan tidak meluas.
  • Mempercepat pemulihan sistem agar operasional bisnis dapat kembali berjalan secepat mungkin.
  • Menjaga reputasi publik, terutama dalam situasi krisis yang melibatkan pelanggan atau pemangku kepentingan.
  • Menjaga kepatuhan regulasi setelah terjadi pelanggaran keamanan, termasuk kewajiban pelaporan dan audit.

Pada akhirnya, Human Risk dan Incident Response bukanlah dua pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua pilar yang saling melengkapi. Pencegahan melalui human risk berfungsi mengurangi frekuensi insiden, sementara incident response memastikan bahwa ketika insiden tetap terjadi, organisasi mampu merespons secara cepat, terkontrol, dan efektif tanpa menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih besar.

Strategi Investasi Keamanan Siber yang Efisien

Untuk menentukan mana yang lebih efisien antara Investasi Human Risk dan Investasi Incident Response, organisasi tidak dapat melihat keduanya secara terpisah. Strategi yang efektif harus bersifat holistik, mempertimbangkan risiko, dampak bisnis, serta kesiapan manusia dan teknologi secara bersamaan. Berikut pendekatan yang dapat diterapkan:

  1. Hitung Risiko dan Dampaknya (Risk-Based Approach)
    Organisasi perlu mengevaluasi probabilitas setiap potensi ancaman serta dampaknya terhadap operasional dan bisnis. Jika analisis menunjukkan bahwa sebagian besar risiko berasal dari faktor manusia, maka investasi human risk seharusnya menjadi prioritas utama sebelum memperkuat incident response, karena pencegahan di titik awal akan memberikan dampak pengurangan risiko yang paling signifikan.
  2. Integrasikan Human Risk dalam Sistem Respons Insiden
    Sistem incident response yang matang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mampu mengidentifikasi apakah sebuah insiden dipicu oleh human risk. Dengan memahami pola tersebut, perusahaan dapat menggunakan data insiden sebagai umpan balik untuk menyempurnakan program human risk agar lebih tepat sasaran dan relevan.
  3. Investasi Berkelanjutan dan Evaluasi Rutin
    Keamanan siber bukan proyek satu kali, melainkan proses berkelanjutan. Perusahaan perlu secara konsisten berinvestasi dalam pelatihan dan pendidikan karyawan, evaluasi risiko secara periodik, simulasi serta latihan respons insiden, dan penyempurnaan teknologi serta proses internal agar tetap selaras dengan dinamika ancaman yang terus berkembang.
  4. Teknologi dan Human Capital Harus Sinkron
    Teknologi keamanan yang canggih tidak akan optimal tanpa sumber daya manusia yang memahami cara menggunakannya dengan benar. Sinkronisasi antara teknologi dan human capital adalah kunci untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan respons yang cepat dan efektif ketika insiden terjadi.

Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, strategi investasi keamanan siber tidak lagi soal memilih antara human risk atau incident response, melainkan bagaimana mengkombinasikan keduanya secara tepat untuk melindungi bisnis secara optimal.

Baca juga: Kesalahan Umum Perusahaan dalam Mengelola Risiko Human Error

Kesimpulan

Dalam jangka panjang, Investasi Human Risk cenderung lebih efisien karena berfokus pada pencegahan dan pengurangan insiden sejak awal. Dengan menekan frekuensi insiden, organisasi dapat mengurangi ketergantungan pada penanganan respons yang mahal dan kompleks, sekaligus membuat Incident Response lebih terstruktur. Pendekatan seperti SiberMate membantu membangun budaya keamanan dari dalam melalui peningkatan kesadaran dan perilaku aman karyawan. Namun, strategi paling efektif tetap menggabungkan Human Risk dan Incident Response secara seimbang dalam kerangka keamanan siber yang menyeluruh.