Human Risk Management Institute

Kesalahan Umum Perusahaan dalam Mengelola Risiko Human Error

Written by Nur Rachmi Latifa | 07 Jan 2026

Dalam era digital saat ini, ancaman siber bukan hanya datang dari serangan teknologi, tetapi lebih sering terjadi dari faktor manusia itu sendiri. Banyak perusahaan fokus pada penguatan teknologi seperti firewall, IDS/IPS, atau solusi enkripsi, namun sering kali mengabaikan aspek terpenting yaitu bagaimana risiko yang muncul dari tindakan manusia yang dikenal sebagai human error dapat dikelola secara strategis. Artikel ini membahas kesalahan umum perusahaan dalam mengelola risiko human error, penyebabnya, serta bagaimana pendekatan Human Risk Management (HRM) dan solusi seperti SiberMate dapat membantu mengatasi tantangan ini. 

Mengapa Human Error Begitu Penting untuk Ditangani?

Berbagai studi dan laporan menunjukkan bahwa lebih dari 90% insiden kebocoran data dan serangan siber berawal dari kesalahan manusia, baik yang terjadi secara tidak disengaja maupun akibat kurangnya kewaspadaan. Contohnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari di kantor: karyawan membuka email phishing karena tampak meyakinkan, mengunduh lampiran tanpa verifikasi, atau membagikan data sensitif tanpa menyadari risikonya. Kesalahan-kesalahan kecil ini sering dianggap sepele, padahal dapat menjadi pintu masuk bagi serangan siber yang berdampak besar bagi perusahaan.

Lebih dari sekadar persoalan teknis, human error adalah persoalan perilaku dan budaya kerja. Ketika organisasi belum membangun kesadaran risiko yang kuat, kesalahan serupa akan terus berulang. Dampaknya tidak hanya berhenti pada gangguan sistem, tetapi juga merembet ke aspek bisnis, hukum, dan reputasi. Inilah sebabnya mengelola risiko human error harus menjadi prioritas strategis, bukan sekadar pelengkap dari investasi teknologi keamanan.

Dampak dari human error dapat meliputi:

  • Kerugian finansial akibat kebocoran data
  • Gangguan operasional dan sistem bisnis
  • Kehilangan kepercayaan pelanggan dan mitra
  • Sanksi hukum akibat ketidakpatuhan terhadap regulasi seperti UU PDP atau standar internasional seperti ISO 27001

Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan, jelas bahwa human error bukan risiko kecil yang bisa diabaikan. Tanpa pengelolaan yang tepat, satu kesalahan sederhana dapat berkembang menjadi insiden serius yang mengganggu keberlangsungan bisnis. Oleh karena itu, perusahaan perlu mulai memandang faktor manusia sebagai bagian inti dari manajemen risiko siber dengan membangun kesadaran, perilaku aman, dan budaya keamanan yang konsisten di seluruh organisasi. Berikut adalah beberapa Kesalahan Umum Perusahaan dalam Mengelola Risiko Human Error.

Baca juga: Awareness ke Action: Evolusi Cyber Culture dengan AI Personal Trainer

1. Fokus Berlebihan pada Teknologi Tanpa Memperhatikan Faktor Manusia

Banyak perusahaan berinvestasi besar pada teknologi keamanan seperti firewall, endpoint protection, atau sistem deteksi ancaman, namun sering lupa bahwa sebagian besar serangan siber justru berhasil karena kesalahan manusia. Tanpa kesadaran dan pemahaman risiko yang baik, karyawan tetap rentan terhadap phishing, social engineering, dan berbagai bentuk manipulasi lainnya meskipun sistem teknologinya sudah canggih.

  • Karyawan tidak memahami pola serangan berbasis manipulasi psikologis
  • Teknologi canggih tidak diimbangi dengan perilaku aman pengguna
  • Keamanan dianggap hanya tanggung jawab tim IT

Akibatnya, sistem yang secara teknis kuat tetap mudah ditembus karena faktor manusia menjadi titik terlemah dalam rantai keamanan organisasi.

2. Menganggap Pelatihan Sekali Saja Sudah Cukup

Masih banyak organisasi yang menganggap pelatihan keamanan siber cukup dilakukan satu kali dalam setahun. Padahal, ancaman siber terus berkembang dan pola human error ikut berubah seiring dinamika pekerjaan, tekanan operasional, serta penggunaan teknologi baru dalam aktivitas sehari-hari.

  • Karyawan tidak siap menghadapi skenario phishing terbaru
  • Pengetahuan cepat terlupakan karena jarang dipraktikkan
  • Budaya keamanan tidak terbentuk secara konsisten

Tanpa pelatihan yang berkelanjutan dan relevan, kesadaran keamanan akan menurun dari waktu ke waktu dan risiko human error akan terus berulang.

3. Kurangnya Simulasi Risiko Nyata

Edukasi keamanan yang hanya bersifat teori sering kali tidak cukup membekali karyawan menghadapi situasi nyata. Tanpa simulasi risiko yang menyerupai kondisi sebenarnya, karyawan tidak terbiasa mengenali tanda bahaya atau mengambil keputusan cepat saat berhadapan dengan ancaman siber.

  • Tidak ada pengalaman langsung menghadapi serangan siber
  • Sulit mengidentifikasi celah perilaku yang perlu diperbaiki
  • Efektivitas pelatihan tidak dapat diukur secara objektif

Tanpa simulasi yang realistis, perusahaan akan kesulitan mengetahui siapa yang membutuhkan intervensi lebih dan di mana risiko human error paling besar berada.

4. Kebijakan Keamanan Tidak Jelas atau Sulit Diakses

Kebijakan keamanan sering kali sudah disusun dengan baik, tetapi tidak efektif karena sulit dipahami atau tidak mudah diakses oleh karyawan. Dokumen yang terlalu teknis dan jarang disosialisasikan membuat aturan keamanan hanya menjadi formalitas di atas kertas.

  • Kebijakan ditulis dengan bahasa yang terlalu teknis
  • Tidak ada mekanisme pengakuan atau komitmen karyawan
  • Dokumen kebijakan tidak terintegrasi dengan aktivitas kerja harian

Akibatnya, karyawan cenderung mengabaikan aturan yang seharusnya menjadi panduan utama dalam mencegah terjadinya human error.

5. Tidak Ada Mekanisme Monitoring dan Umpan Balik Risiko

Tanpa pemantauan dan pelaporan yang berkelanjutan, perusahaan tidak memiliki gambaran jelas tentang tren kesalahan dan tingkat risiko yang dihadapi organisasi. Human error pun sering baru disadari setelah insiden terjadi.

  • Tidak diketahui titik kelemahan terbesar dalam organisasi
  • Pelatihan tidak dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata
  • Tidak ada data untuk evaluasi dan perbaikan berkelanjutan

Monitoring dan umpan balik yang konsisten memungkinkan perusahaan mengambil tindakan korektif lebih cepat sebelum kesalahan kecil berkembang menjadi insiden besar.

6. Budaya Keamanan yang Lemah

Budaya keamanan merupakan fondasi utama dalam mengurangi risiko human error. Jika karyawan tidak merasa bertanggung jawab terhadap keamanan, maka kepatuhan hanya akan terjadi saat diawasi, bukan karena kesadaran.

  • Pelaporan insiden tidak dianggap penting
  • Tidak ada apresiasi atau insentif atas perilaku aman
  • Minim komunikasi internal terkait ancaman terbaru

Tanpa budaya keamanan yang kuat dan konsisten, berbagai upaya teknis dan kebijakan yang sudah diterapkan akan mudah runtuh akibat perilaku individu yang tidak selaras.

Pendekatan yang Lebih Efektif: Human Risk Management (HRM)

Berdasarkan berbagai tantangan dalam pengelolaan risiko human error, perusahaan perlu beralih ke pendekatan yang lebih menyeluruh melalui Human Risk Management (HRM). Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai elemen utama dalam risiko keamanan, bukan sekadar pelengkap dari teknologi. Dengan memahami bahwa perilaku, kebiasaan, dan pengambilan keputusan karyawan sangat memengaruhi tingkat risiko, HRM membantu organisasi membangun pertahanan yang lebih realistis dan berkelanjutan. Strategi HRM biasanya mencakup:

  • Pelatihan kesadaran siber yang dipersonalisasi sesuai peran dan tingkat risiko
  • Simulasi risiko nyata, termasuk phishing otomatis
  • Pemantauan perilaku dan pelaporan risiko secara berkelanjutan
  • Kebijakan keamanan yang mudah diakses dan dipahami
  • Evaluasi serta tindak lanjut berbasis data nyata

Melalui pendekatan ini, perusahaan tidak hanya mengetahui apa saja risikonya, tetapi juga memahami bagaimana perilaku karyawan berkontribusi terhadap risiko tersebut, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan secara lebih tepat dan terukur.

SiberMate: Solusi Inovatif untuk Risiko Human Error

Untuk menjawab tantangan pengelolaan risiko human error secara menyeluruh, perusahaan membutuhkan solusi yang tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga perilaku manusia. SiberMate hadir sebagai solusi berbasis Human Risk Management (HRM) yang membantu organisasi mengurangi human risk sekaligus meningkatkan ketahanan siber secara berkelanjutan.

  1. Pelatihan Kesadaran Siber yang Dipersonalisasi
    SiberMate menyediakan materi pelatihan yang disesuaikan dengan peran, konteks kerja, dan tingkat risiko masing-masing karyawan, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan, mudah dipahami, dan berdampak nyata dibandingkan pelatihan generik tahunan.
  2. Simulasi Phishing Otomatis dan Relevan
    Melalui ribuan template phishing yang kontekstual dan dapat dijalankan secara otomatis, SiberMate membantu perusahaan menguji kesiapan karyawan dalam menghadapi ancaman nyata sekaligus membangun kewaspadaan melalui pengalaman langsung.
  3. Analitik dan Pelaporan Risiko
    SiberMate menyediakan analitik dan laporan risiko yang mudah dipahami oleh manajemen untuk melihat tren human error, area paling rentan, serta kebutuhan pelatihan lanjutan secara berbasis data.
  4. Breach Monitoring dan Manajemen Kebijakan
    Fitur breach monitoring membantu mendeteksi potensi kebocoran data, sementara pengelolaan kebijakan digital memastikan seluruh karyawan memahami aturan keamanan dan tanggung jawabnya secara konsisten.
  5. Integrasi dan Otomasi
    SiberMate dapat terintegrasi dengan sistem yang sudah digunakan perusahaan, seperti Google Workspace dan Microsoft 365, sehingga proses implementasi, pemantauan, dan pengelolaan risiko dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis perilaku, SiberMate membantu perusahaan tidak hanya merespons insiden, tetapi juga mencegah risiko human error sejak awal, membangun budaya keamanan, dan menjaga keberlangsungan bisnis di tengah lanskap ancaman siber yang terus berkembang.

Tips Praktis Mengurangi Risiko Human Error di Perusahaan

Untuk melengkapi strategi teknologi dan kebijakan keamanan, perusahaan perlu langkah-langkah praktis yang bisa langsung diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Pendekatan sederhana namun konsisten akan membantu menurunkan risiko human error secara nyata.

  • Lakukan Pelatihan Berkala: Susun jadwal pelatihan mingguan atau bulanan sebagai pengingat rutin, agar kesadaran keamanan siber tetap segar dan mengikuti perkembangan ancaman terbaru.
  • Buat Kebijakan yang Jelas & Mudah Dipahami: Hindari bahasa yang terlalu teknis. Kebijakan keamanan harus ringkas, kontekstual, dan mudah dipahami oleh seluruh level karyawan agar benar-benar dipatuhi.
  • Jalankan Simulasi Nyata: Gunakan simulasi yang relevan dengan lingkungan kerja, seperti skenario phishing atau kesalahan operasional, sehingga karyawan terbiasa menghadapi situasi berisiko secara langsung.
  • Pantau & Evaluasi Data Risiko: Lakukan pemantauan berkelanjutan terhadap tren kesalahan dan tindak lanjuti hasilnya untuk perbaikan pelatihan maupun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
  • Bangun Budaya Keamanan Terbuka: Dorong seluruh karyawan untuk aktif melaporkan insiden, berbagi temuan, dan berdiskusi tanpa rasa takut disalahkan, sehingga keamanan menjadi tanggung jawab bersama.

Dengan penerapan tips-tips ini secara konsisten, perusahaan dapat menekan risiko human error sekaligus membangun budaya keamanan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Baca juga: Human Error Masih Jadi Masalah Besar—AI Bisa Jadi Jawabannya

Kesimpulan

Human error bukan sekadar masalah teknis, tetapi masalah perilaku yang bisa terjadi di mana saja di dalam organisasi. Kesalahan umum perusahaan dalam mengelola risiko human error mencakup fokus terlalu berat pada teknologi, pelatihan tidak berkelanjutan, kebijakan yang tidak efektif, kurangnya monitoring, dan budaya keamanan yang lemah. Pendekatan Human Risk Management (HRM) seperti yang diimplementasikan oleh SiberMate dapat membantu perusahaan mengidentifikasi, mengukur, dan mengurangi human risk secara terstruktur dan efektif. Dengan strategi yang tepat, bukan hanya sistem keamanan yang kuat yang dimiliki organisasi, tetapi juga karyawan yang lebih sadar, terlatih, dan berperan aktif dalam menjaga keamanan perusahaan.