Human Risk Management Institute

Sistem Baru SIM Gunakan Teknologi Biometrik

Written by Nur Rachmi Latifa | 13 Feb 2026

Transformasi digital di Indonesia terus bergerak cepat, seiring meningkatnya kebutuhan akan keamanan identitas dan perlindungan masyarakat dari kejahatan digital. Salah satu langkah strategis terbaru yang diambil pemerintah adalah penerapan sistem baru SIM (Subscriber Identity Module) yang menggunakan teknologi biometrik. Kebijakan ini tidak muncul tanpa alasan. Lonjakan kasus penipuan digital, penyalahgunaan identitas, dan kebocoran data menjadi alarm keras bahwa mekanisme lama sudah tidak lagi memadai. Dengan menjadikan biometrik sebagai fondasi utama registrasi dan verifikasi SIM, pemerintah berharap dapat menutup celah yang selama ini dimanfaatkan pelaku kejahatan digital. Namun di balik tujuan tersebut, muncul pula perdebatan publik terkait kesiapan sistem, perlindungan data pribadi, hingga risiko penyalahgunaan teknologi pengenalan wajah.

Lonjakan Kejahatan Digital Jadi Alarm Nasional

Lonjakan kejahatan digital di Indonesia bukan lagi sekadar angka statistik, tetapi sudah menjadi masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kerugian sebesar Rp 9,1 triliun sejak November 2024 hingga awal 2026 menunjukkan bahwa penipuan digital telah berkembang menjadi ancaman sistemik, bukan insiden sporadis. Dampaknya bukan hanya pada korban individu, tetapi juga pada stabilitas ekonomi digital nasional.

Pernyataan Meutya Hafid semakin menegaskan besarnya skala masalah ini. Kerugian Rp 4,6 triliun di sektor pembayaran digital hingga Agustus 2025 mencerminkan betapa rapuhnya sistem kepercayaan dalam transaksi daring. Fakta bahwa sekitar 22 persen pengguna internet Indonesia pernah terpapar kejahatan digital menunjukkan bahwa risiko ini bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau tingkat literasi teknologi.

Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah pola kejahatan yang terus berevolusi. Pelaku tidak lagi mengandalkan metode sederhana, tetapi memanfaatkan teknik manipulasi psikologis yang halus dan meyakinkan. Dari spoofing hingga social engineering, kejahatan digital kini lebih menyerupai permainan kepercayaan, dengan nomor telepon sebagai pintu masuk utama untuk menjerat korban.

Baca juga: Bagaimana Hukum Indonesia Menangani Kejahatan Siber di Era Digital

Nomor SIM dan Identitas Digital: Titik Lemah yang Dimanfaatkan

Selama bertahun-tahun, sistem registrasi kartu SIM di Indonesia bertumpu pada data administratif seperti NIK dan Kartu Keluarga. Pada masanya, pendekatan ini dianggap cukup untuk memastikan keterhubungan antara nomor dan identitas pengguna. Namun, di tengah masifnya kebocoran data, mekanisme tersebut perlahan kehilangan efektivitasnya.

Data pribadi yang bocor lima hingga sepuluh tahun lalu masih terus beredar hingga kini. Informasi tersebut diperdagangkan, digunakan ulang, dan dimanfaatkan untuk berbagai skema kejahatan. Dengan identitas lama yang masih valid di banyak sistem, pelaku dapat mendaftarkan SIM baru, mengirim pesan penipuan, atau melakukan panggilan palsu yang terlihat sah di mata korban.

Dalam realitas digital saat ini, SIM telah berubah peran. Ia bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi penghubung utama ke berbagai layanan penting—perbankan, media sosial, hingga layanan publik. Ketika identitas yang melekat pada SIM mudah dimanipulasi, maka risiko yang muncul tidak hanya soal penipuan, tetapi juga runtuhnya kepercayaan terhadap seluruh ekosistem digital.

Layanan Semantik: Pondasi Baru Identitas Digital

Menjawab meningkatnya penyalahgunaan identitas digital, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia meluncurkan layanan Semantik sebagai fondasi baru pengelolaan identitas digital nasional. Inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem yang lebih aman, terverifikasi, dan dapat dipercaya, khususnya dalam konteks layanan digital yang semakin terhubung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Melalui Semantik, pemerintah ingin memastikan bahwa identitas digital yang digunakan benar-benar merepresentasikan individu yang sah. Keterkaitan antara identitas, nomor SIM, dan layanan digital diperkuat agar celah penyalahgunaan data bisa ditekan. Dengan demikian, perlindungan konsumen tidak lagi hanya bergantung pada kehati-hatian individu, tetapi juga pada sistem yang lebih kokoh. Salah satu pilar utama Semantik meliputi:

  • Penerapan verifikasi berbasis biometrik untuk memastikan identitas pengguna
  • Pembatasan jumlah nomor SIM yang dapat dimiliki setiap individu
  • Aktivasi kartu perdana dalam kondisi tidak aktif hingga proses verifikasi selesai

Bagaimana Sistem SIM Berbasis Biometrik Bekerja?

Dalam sistem baru ini, registrasi SIM tidak lagi mengandalkan data yang mudah disalin atau disalahgunakan. Biometrik, khususnya teknologi pengenalan wajah (face recognition), digunakan sebagai lapisan verifikasi utama. Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa orang yang mendaftarkan SIM adalah benar pemilik identitas tersebut, bukan pihak lain yang memanfaatkan data bocor. Dengan mekanisme ini, peluang pembuatan SIM fiktif atau anonim diharapkan dapat ditekan secara signifikan. Secara umum, alur sistem SIM berbasis biometrik adalah:

  1. Pengguna melakukan pendaftaran atau registrasi ulang SIM
  2. Sistem meminta pemindaian wajah secara langsung
  3. Data biometrik diverifikasi dengan basis data resmi yang sah
  4. SIM atau kartu perdana baru aktif setelah verifikasi berhasil

Pendekatan ini dianggap jauh lebih kuat karena data biometrik bersifat unik dan melekat pada individu. Berbeda dengan NIK atau nomor ponsel yang masih bisa diganti, wajah seseorang tidak dapat diubah.

Manfaat Penerapan Biometrik pada SIM

Penerapan teknologi biometrik dalam sistem SIM dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat keamanan identitas digital. Pemerintah menilai pendekatan ini tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga membawa manfaat luas bagi masyarakat, ekonomi, dan keberlanjutan transformasi digital nasional.

Menekan Penipuan Digital

Dengan verifikasi berbasis biometrik, identitas pengguna menjadi jauh lebih sulit dipalsukan. Hal ini secara langsung mengurangi ruang gerak pelaku kejahatan yang selama ini memanfaatkan nomor SIM anonim untuk melakukan penipuan, penyamaran identitas, dan berbagai modus kejahatan digital lainnya.

Meningkatkan Kepercayaan Publik

Sistem SIM yang lebih aman membuat masyarakat merasa lebih terlindungi saat menggunakan layanan digital. Kepercayaan terhadap transaksi perbankan, dompet digital, hingga layanan publik berbasis daring pun meningkat, karena risiko penyalahgunaan identitas dapat ditekan sejak tahap awal.

Mendukung Transformasi Digital Nasional

Identitas digital yang kuat menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi digital. Dengan SIM yang terverifikasi secara biometrik, integrasi layanan lintas sektor—mulai dari keuangan, kesehatan, hingga administrasi publik dapat berjalan lebih aman dan efisien.

Perlindungan Konsumen yang Lebih Baik

Pengguna memperoleh kepastian bahwa nomor SIM yang mereka gunakan benar-benar terhubung dengan identitas yang sah. Kepastian ini memberi perlindungan tambahan bagi konsumen dari penyalahgunaan data, sekaligus memperkuat posisi masyarakat sebagai subjek yang dilindungi dalam ekosistem digital.

Secara keseluruhan, penerapan biometrik pada SIM diharapkan menjadi fondasi baru dalam membangun ruang digital Indonesia yang lebih aman, terpercaya, dan berkelanjutan, selama diiringi dengan tata kelola data dan perlindungan privasi yang kuat.

Pro dan Kontra Registrasi SIM Biometrik

Penerapan registrasi SIM berbasis biometrik diposisikan pemerintah sebagai langkah strategis jangka panjang. Namun, seperti kebijakan besar lainnya, pendekatan ini memunculkan perdebatan yang cukup tajam di ruang publik, terutama terkait isu privasi dan keamanan data pribadi.

Di satu sisi, pemerintah melihat biometrik sebagai solusi untuk menutup celah kejahatan digital. Di sisi lain, kekhawatiran muncul karena data biometrik bersifat sangat sensitif dan permanen. Praktisi hukum David M. L. Tobing menegaskan bahwa perlindungan data harus menjadi prioritas utama sebelum kebijakan diterapkan secara luas, mengingat Indonesia memiliki catatan panjang kebocoran data di berbagai sektor. Isu utama yang banyak disorot publik meliputi:

  • Data biometrik bersifat permanen dan tidak bisa diganti, sehingga risikonya jauh lebih besar dibanding data administratif biasa
  • Jika terjadi kebocoran, dampaknya berpotensi lebih berbahaya karena identitas tidak dapat dipulihkan
  • Standar pengelolaan data biometrik belum seragam, baik dari sisi teknis maupun tata kelola antar lembaga

Tantangan Baru: AI dan Deepfake

Selain isu kebocoran data, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru yang tidak kalah serius. Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuat teknologi pengenalan wajah tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap manipulasi.

Teknologi deepfake kini mampu memalsukan wajah dengan tingkat presisi yang semakin tinggi. Tanpa sistem keamanan berlapis, biometrik justru berisiko dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan berbasis identitas digital. Dalam skenario terburuk, pemalsuan wajah dapat dimanfaatkan untuk:

  • Membuka akun keuangan atas nama orang lain
  • Melakukan penipuan digital dengan identitas palsu
  • Mengambil alih akun dan identitas korban

Karena itu, para pakar menilai penerapan biometrik harus disertai teknologi pendukung seperti anti-spoofing, liveness detection, serta audit keamanan yang dilakukan secara berkala dan independen.

Pengelolaan Data Biometrik Masih Jadi PR Besar

Keberhasilan sistem SIM berbasis biometrik tidak hanya bergantung pada teknologinya, tetapi juga pada cara data dikelola. Saat ini, praktik pengelolaan data pribadi di berbagai sektor masih belum seragam dan sering kali minim standar yang jelas.

Pemindaian KTP dan pengambilan foto wajah kerap dilakukan tanpa kejelasan mengenai penyimpanan, enkripsi, dan siapa saja yang memiliki akses. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa biometrik justru menjadi sumber risiko baru jika tata kelolanya tidak dibenahi. Agar sistem berjalan aman, beberapa hal yang harus dipastikan adalah:

  • Data biometrik disimpan dengan enkripsi tingkat tinggi
  • Akses data dibatasi secara ketat dan berbasis kebutuhan
  • Tersedia mekanisme audit dan akuntabilitas yang transparan
  • Ada prosedur penghapusan data yang jelas dan dapat diawasi

Tanpa standar tersebut, tujuan awal meningkatkan keamanan berpotensi berbalik menjadi ancaman bagi privasi masyarakat.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Lebih Luas

Penguatan sistem SIM berbasis biometrik tidak hanya berdampak pada keamanan digital, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang luas. Pemerintah menegaskan bahwa tata kelola ruang digital yang kuat merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi digital yang sehat.

Kejahatan digital tidak hanya merugikan individu sebagai korban, tetapi juga menciptakan beban sistemik bagi negara dan dunia usaha. Kerugian finansial, menurunnya kepercayaan, hingga meningkatnya biaya pengamanan menjadi konsekuensi nyata dari lemahnya identitas digital. Dampak kejahatan digital yang paling dirasakan antara lain:

  • Menghambat pertumbuhan ekonomi digital nasional
  • Merusak kepercayaan investor dan pelaku usaha
  • Membebani sistem perbankan serta layanan publik

Dengan sistem SIM berbasis biometrik yang dikelola secara hati-hati dan akuntabel, pemerintah berharap ruang digital Indonesia dapat menjadi lebih tertib, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan penerapan SIM berbasis biometrik tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Kebijakan ini menuntut kolaborasi lintas sektor yang solid, mulai dari pemerintah sebagai pembuat regulasi, operator telekomunikasi sebagai pelaksana di lapangan, regulator pengawas, hingga penyedia teknologi yang memastikan sistem berjalan aman dan andal. Tanpa keselarasan visi dan peran, risiko celah teknis maupun tata kelola akan tetap terbuka.

Di luar aspek teknis, kesiapan sumber daya manusia dan edukasi publik menjadi penentu yang tak kalah penting. Sistem yang canggih akan sulit efektif jika masyarakat tidak memahami cara kerja, manfaat, serta hak mereka atas data biometrik. Transparansi, komunikasi yang jelas, dan literasi digital harus berjalan beriringan agar kepercayaan publik tumbuh dan kebijakan ini benar-benar memberikan dampak positif jangka panjang.

Baca juga: Kesenjangan Keamanan Siber di Layanan Publik Digital Indonesia

Kesimpulan

Penerapan sistem baru SIM berbasis biometrik merupakan langkah besar dalam upaya pemerintah menekan kejahatan digital dan memperkuat identitas digital nasional. Dengan menjadikan biometrik sebagai fondasi verifikasi, celah penyalahgunaan identitas diharapkan dapat ditutup secara signifikan. Namun, kebijakan ini bukan tanpa tantangan. Isu perlindungan data pribadi, ancaman AI dan deepfake, serta kesiapan sistem nasional harus dijawab dengan serius.

Tanpa pengamanan berlapis dan tata kelola yang kuat, teknologi biometrik justru bisa menjadi pedang bermata dua. Ke depan, keseimbangan antara keamanan, privasi, dan kepercayaan publik akan menjadi kunci. Jika dikelola dengan tepat, sistem SIM berbasis biometrik dapat menjadi pondasi penting bagi ruang digital Indonesia yang lebih aman, terpercaya, dan berkelanjutan.