Di tengah meningkatnya serangan siber global, satu perdebatan terus muncul di ruang diskusi para profesional keamanan siber: apakah ancaman terbesar bagi organisasi berasal dari kesalahan manusia, atau dari perkembangan teknologi AI yang semakin canggih? Banyak pihak langsung menjawab "AI" karena terdengar lebih modern dan mengkhawatirkan. Namun jawaban itu seringkali terburu-buru. Artikel ini memaparkan perbandingan menyeluruh antara human risk (risiko manusia) dan risiko teknologi AI — termasuk bagaimana keduanya berinteraksi, mana yang lebih sulit dikendalikan, dan apa yang seharusnya menjadi prioritas mitigasi organisasi Anda saat ini.
Human risk merujuk pada potensi kerugian yang timbul akibat perilaku, keputusan, atau kelalaian manusia di dalam maupun di sekitar organisasi. Risiko ini tidak hanya berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang keamanan siber, tetapi juga mencakup berbagai tindakan yang dapat membuka celah bagi terjadinya insiden keamanan. Bentuk-bentuk human risk yang paling umum meliputi:
Baca juga: Apakah Face Recognition Masih Aman di Era Deepfake?
Teknologi AI menghadirkan berbagai manfaat dan transformasi yang signifikan bagi organisasi. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat sejumlah risiko baru yang perlu dipahami dan dikelola. Dalam konteks keamanan siber, risiko AI dapat dilihat dari dua sisi: AI sebagai alat yang dimanfaatkan oleh penyerang dan AI sebagai sistem yang memiliki kerentanannya sendiri. AI dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas serangan, antara lain melalui:
Selain dimanfaatkan oleh penyerang, penerapan AI di dalam organisasi juga membawa risiko internal yang perlu diperhatikan, seperti:
Meskipun sama-sama dapat menyebabkan insiden keamanan siber, human risk dan risiko teknologi AI memiliki karakteristik yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya penting agar organisasi dapat menerapkan strategi mitigasi yang tepat.
Tidak mudah menentukan apakah human risk atau risiko teknologi AI lebih berbahaya, karena keduanya memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda. Namun, jika dinilai berdasarkan kondisi saat ini, human risk masih menjadi ancaman yang lebih dominan, lebih sering terjadi, dan lebih sulit dikendalikan dalam jangka pendek. Sebagian besar insiden keamanan siber masih melibatkan unsur manusia, baik melalui kesalahan, kelalaian, penyalahgunaan akses, maupun keberhasilan serangan rekayasa sosial.
Pada praktiknya, teknologi AI yang digunakan oleh penyerang tetap membutuhkan manusia sebagai titik masuk utama. Serangan phishing, deepfake, maupun berbagai bentuk manipulasi berbasis AI akan jauh lebih sulit berhasil apabila individu memiliki kesadaran keamanan yang baik serta mengikuti prosedur verifikasi yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa human risk sering kali berperan sebagai faktor pengali yang dapat memperbesar dampak dari berbagai ancaman keamanan lainnya, termasuk ancaman yang memanfaatkan AI.
Meski demikian, risiko teknologi AI tidak dapat dianggap remeh. Perkembangannya berlangsung sangat cepat dan memungkinkan berbagai teknik serangan menjadi lebih murah, lebih otomatis, dan lebih mudah diakses dibandingkan sebelumnya. Organisasi yang hanya berfokus pada pengelolaan human risk tanpa mempersiapkan diri menghadapi ancaman berbasis AI berisiko tertinggal. Oleh karena itu, pendekatan keamanan yang efektif perlu mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara bersamaan, baik dari sisi manusia maupun teknologi.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam perencanaan keamanan siber adalah memperlakukan human risk dan risiko teknologi AI sebagai dua masalah yang terpisah. Padahal, keduanya saling berkaitan dan dapat saling memperkuat dampak satu sama lain. Oleh karena itu, strategi mitigasi yang efektif perlu menggabungkan aspek manusia, proses, dan teknologi dalam satu pendekatan yang terintegrasi.
Tidak ada solusi tunggal yang dapat menghilangkan seluruh risiko keamanan siber. Organisasi perlu membangun keseimbangan antara peningkatan kesadaran manusia dan penguatan kontrol teknologi agar mampu menghadapi ancaman yang terus berkembang, baik yang berasal dari faktor manusia maupun pemanfaatan AI.
Baca juga: Manusia sebagai Kunci Utama dalam Mencegah Kejahatan Siber di Kantor
Human risk dan risiko teknologi AI bukanlah dua ancaman yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan dapat memperkuat dampak satu sama lain. Dalam lanskap ancaman saat ini, human risk masih menjadi titik lemah yang paling sering dieksploitasi, sementara AI berperan sebagai faktor yang mempercepat dan memperbesar skala serangan. Karena itu, organisasi perlu membangun pertahanan yang mampu mengelola kedua risiko tersebut secara bersamaan.
Investasi dalam security awareness dan pengelolaan risiko manusia bukan sekadar biaya, melainkan fondasi yang menentukan efektivitas seluruh kontrol keamanan lainnya. Melalui pendekatan Human Risk Management, SiberMate membantu organisasi membangun budaya keamanan yang lebih kuat, mengukur tingkat risiko manusia, serta mengurangi kemungkinan terjadinya insiden yang dipicu oleh faktor manusia maupun pemanfaatan teknologi AI.