Di era media sosial seperti sekarang, memotret momen tumbuh kembang anak lalu mengunggahnya ke Instagram atau Facebook sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Foto pertama kali berjalan, video lucu saat makan, hingga rapor hasil ujian sekolah—semua dibagikan dengan bangga ke ratusan bahkan ribuan pengikut.Kebiasaan ini terasa wajar dan tidak berbahaya.
Namun, studi terbaru dari Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) justru memperlihatkan fakta yang perlu diwaspadai: kebiasaan membagikan informasi anak secara berlebihan di dunia digital ternyata membuka celah nyata bagi kebocoran data dan ancaman keamanan siber. Sebagai orang tua, memahami risiko ini bukan berarti harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Melainkan, perlu ada kesadaran dan langkah yang lebih hati-hati dalam menjaga privasi anak di ruang digital.
Sharenting adalah gabungan dari kata share (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Istilah ini merujuk pada kebiasaan orang tua yang secara rutin membagikan foto, video, dan informasi tentang anak mereka di media sosial. Tidak ada yang salah dengan merasa bangga menjadi orang tua. Masalahnya muncul ketika konten yang dibagikan mengandung informasi sensitif—seperti nama lengkap anak, lokasi sekolah, rutinitas harian, atau foto dengan detail latar belakang yang dapat dikenali.
Riset bertajuk "Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children's Data" yang dilakukan Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkapkan kesenjangan yang mengkhawatirkan: meskipun sebagian besar orang tua mengaku sadar akan risiko privasi, frekuensi berbagi yang tinggi justru berbanding terbalik dengan motivasi mereka untuk mengambil langkah pengamanan. Artinya, semakin sering seseorang terbiasa membagikan konten anak, semakin berkurang kewaspadaannya terhadap risiko yang mengintai.
Baca juga: Modus Social Engineering di Social Media yang Sering Terjadi
Salah satu temuan paling menarik dari studi tersebut adalah paradoks antara pemahaman dan perilaku. Sebanyak 87% responden dalam studi ini setuju bahwa membatasi visibilitas akun media sosial hanya untuk lingkaran terdekat dapat secara signifikan menekan risiko kebocoran data anak. Angka itu terdengar menjanjikan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain.
Sebanyak 49% orang tua mengaku bahwa mengubah pengaturan privasi akun media sosial terasa terlalu menyita waktu. Sementara 40% lainnya menganggap proses menghapus izin berbagi membutuhkan usaha ekstra yang tidak sepadan. Bahkan, sekitar 36% responden merasa mematikan fitur geo-tagging atau metadata lokasi pada foto terlalu merepotkan. Hambatan-hambatan ini mungkin terdengar sepele. Namun ketika diakumulasikan, mereka menciptakan pola yang berbahaya: orang tua tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi memilih untuk tidak melakukannya karena alasan kenyamanan.
Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber Kaspersky APAC, menjelaskan bahwa manusia secara naluriah cenderung memprioritaskan kenyamanan jangka pendek di atas keamanan jangka panjang. Mengubah pengaturan privasi atau menghapus tag lokasi memang terasa tidak mendesak—sampai dampaknya benar-benar terjadi.
Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami secara konkret ancaman yang dapat muncul ketika privasi anak tidak dijaga dengan baik di dunia digital. Informasi yang tampak sederhana, seperti foto, lokasi, atau kebiasaan sehari-hari, dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk berbagai tujuan yang merugikan.
Kabar baiknya, melindungi privasi anak di era digital tidak harus rumit. Terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk mengurangi risiko paparan data pribadi anak di internet dan media sosial.
Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi risiko kebocoran data dan melindungi privasi anak di lingkungan digital yang semakin kompleks.
Penting untuk dipahami bahwa tujuan dari upaya melindungi privasi anak bukanlah melarang orang tua menggunakan media sosial atau berhenti membagikan momen berharga bersama keluarga. Media sosial tetap dapat menjadi sarana yang positif untuk berbagi pengalaman dan menjalin koneksi dengan orang lain, selama digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Yang perlu dibangun adalah perubahan pola pikir, dari kebiasaan untuk langsung membagikan konten menjadi kebiasaan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan. Setiap foto, video, maupun informasi yang melibatkan anak dapat membawa konsekuensi privasi yang nyata, sehingga orang tua memiliki peran penting sebagai garis pertahanan pertama dalam melindungi data dan identitas anak.
Temuan dari studi Kaspersky dan SIT menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup untuk mengurangi risiko. Diperlukan langkah-langkah nyata, meskipun sederhana, untuk memperkuat perlindungan privasi anak dan menutup celah keamanan yang selama ini sering dianggap tidak signifikan.
Baca juga: Risiko Keamanan Digital pada Orang Tua di Tengah Maraknya Scam
Privasi anak di era digital merupakan tanggung jawab yang tidak dapat diabaikan. Setiap informasi yang dibagikan secara online berpotensi meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, langkah-langkah sederhana seperti mengatur privasi akun, menonaktifkan fitur lokasi, serta membangun kesadaran keamanan digital sejak dini dapat menjadi upaya penting untuk melindungi data dan privasi anak dalam jangka panjang.