Human Risk Management Institute

Privasi Anak di Era Digital: Apa yang Perlu Diperhatikan Orang Tua?

Written by Nur Rachmi Latifa | 19 Jun 2026

Di era media sosial seperti sekarang, memotret momen tumbuh kembang anak lalu mengunggahnya ke Instagram atau Facebook sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Foto pertama kali berjalan, video lucu saat makan, hingga rapor hasil ujian sekolah—semua dibagikan dengan bangga ke ratusan bahkan ribuan pengikut.Kebiasaan ini terasa wajar dan tidak berbahaya. 

Namun, studi terbaru dari Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) justru memperlihatkan fakta yang perlu diwaspadai: kebiasaan membagikan informasi anak secara berlebihan di dunia digital ternyata membuka celah nyata bagi kebocoran data dan ancaman keamanan siber. Sebagai orang tua, memahami risiko ini bukan berarti harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Melainkan, perlu ada kesadaran dan langkah yang lebih hati-hati dalam menjaga privasi anak di ruang digital.

Apa Itu Sharenting dan Mengapa Ini Menjadi Masalah?

Sharenting adalah gabungan dari kata share (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Istilah ini merujuk pada kebiasaan orang tua yang secara rutin membagikan foto, video, dan informasi tentang anak mereka di media sosial. Tidak ada yang salah dengan merasa bangga menjadi orang tua. Masalahnya muncul ketika konten yang dibagikan mengandung informasi sensitif—seperti nama lengkap anak, lokasi sekolah, rutinitas harian, atau foto dengan detail latar belakang yang dapat dikenali.

Riset bertajuk "Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children's Data" yang dilakukan Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkapkan kesenjangan yang mengkhawatirkan: meskipun sebagian besar orang tua mengaku sadar akan risiko privasi, frekuensi berbagi yang tinggi justru berbanding terbalik dengan motivasi mereka untuk mengambil langkah pengamanan. Artinya, semakin sering seseorang terbiasa membagikan konten anak, semakin berkurang kewaspadaannya terhadap risiko yang mengintai.

Baca juga: Modus Social Engineering di Social Media yang Sering Terjadi

Kesadaran Ada, Tapi Tindakan Belum Mengikuti

Salah satu temuan paling menarik dari studi tersebut adalah paradoks antara pemahaman dan perilaku. Sebanyak 87% responden dalam studi ini setuju bahwa membatasi visibilitas akun media sosial hanya untuk lingkaran terdekat dapat secara signifikan menekan risiko kebocoran data anak. Angka itu terdengar menjanjikan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain.

Sebanyak 49% orang tua mengaku bahwa mengubah pengaturan privasi akun media sosial terasa terlalu menyita waktu. Sementara 40% lainnya menganggap proses menghapus izin berbagi membutuhkan usaha ekstra yang tidak sepadan. Bahkan, sekitar 36% responden merasa mematikan fitur geo-tagging atau metadata lokasi pada foto terlalu merepotkan. Hambatan-hambatan ini mungkin terdengar sepele. Namun ketika diakumulasikan, mereka menciptakan pola yang berbahaya: orang tua tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi memilih untuk tidak melakukannya karena alasan kenyamanan.

Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber Kaspersky APAC, menjelaskan bahwa manusia secara naluriah cenderung memprioritaskan kenyamanan jangka pendek di atas keamanan jangka panjang. Mengubah pengaturan privasi atau menghapus tag lokasi memang terasa tidak mendesak—sampai dampaknya benar-benar terjadi.

Apa Risiko Nyata yang Dihadapi Anak?

Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami secara konkret ancaman yang dapat muncul ketika privasi anak tidak dijaga dengan baik di dunia digital. Informasi yang tampak sederhana, seperti foto, lokasi, atau kebiasaan sehari-hari, dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk berbagai tujuan yang merugikan.

  1. Identitas Anak Dapat Disalahgunakan
    Foto dan informasi pribadi anak yang tersebar di internet dapat dimanfaatkan untuk membuat identitas palsu. Nama, tanggal lahir, wajah, hingga informasi sekolah yang muncul dalam berbagai unggahan dapat digabungkan menjadi profil yang cukup lengkap untuk dieksploitasi.
  2. Jejak Digital yang Sulit Dihapus
    Setiap konten yang diunggah ke internet meninggalkan jejak digital yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Anak yang saat ini masih kecil mungkin tidak menginginkan foto atau video masa kecilnya tetap tersedia dan dapat diakses publik saat mereka dewasa.
  3. Risiko Penipuan dan Manipulasi Sosial
    Informasi mengenai aktivitas dan rutinitas anak, seperti lokasi sekolah atau jadwal kegiatan tertentu, dapat dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai bentuk penipuan, rekayasa sosial, atau ancaman lainnya.
  4. Eksploitasi Data oleh Pihak Ketiga
    Platform digital mengumpulkan berbagai jenis data pengguna, termasuk metadata yang melekat pada foto dan konten yang diunggah. Data tersebut dapat digunakan untuk kepentingan komersial atau berpotensi terekspos apabila terjadi insiden keamanan pada platform yang digunakan.

Langkah Konkret yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Kabar baiknya, melindungi privasi anak di era digital tidak harus rumit. Terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk mengurangi risiko paparan data pribadi anak di internet dan media sosial.

  1. Jadikan Akun Media Sosial Bersifat Privat
    Ubah pengaturan akun media sosial dari public menjadi private agar hanya orang-orang yang dikenal dan dipercaya yang dapat melihat konten yang dibagikan. Langkah sederhana ini dapat secara signifikan mengurangi risiko akses oleh pihak yang tidak berkepentingan.
  2. Nonaktifkan Fitur Lokasi pada Foto
    Foto yang diambil menggunakan smartphone sering kali menyimpan metadata lokasi secara otomatis. Karena itu, penting untuk menonaktifkan fitur lokasi pada kamera atau menghapus metadata sebelum mengunggah foto. Selain itu, hindari membagikan foto yang menampilkan nama sekolah, alamat, atau lokasi yang menjadi bagian dari rutinitas anak.
  3. Tinjau dan Hapus Unggahan Lama
    Luangkan waktu untuk memeriksa kembali unggahan yang telah dibagikan sebelumnya. Menghapus konten yang sudah tidak relevan dapat membantu mengurangi jejak digital anak dan membatasi informasi yang tersedia bagi pihak lain.
  4. Gunakan Aplikasi Keamanan Digital untuk Anak
    Fitur parental control dapat membantu orang tua memantau aktivitas digital anak dan membatasi akses ke konten yang tidak sesuai usia. Saat ini, banyak perangkat dan sistem operasi juga telah menyediakan fitur serupa yang dapat digunakan tanpa biaya tambahan.
  5. Ajarkan Literasi Digital Sejak Dini
    Selain menerapkan kontrol teknis, orang tua juga perlu membangun pemahaman anak mengenai keamanan digital. Mengajarkan informasi apa yang boleh dan tidak boleh dibagikan di internet merupakan langkah penting untuk membangun kebiasaan digital yang aman sejak usia dini.

Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi risiko kebocoran data dan melindungi privasi anak di lingkungan digital yang semakin kompleks.

Bukan Soal Larangan, Tetapi Soal Kesadaran

Penting untuk dipahami bahwa tujuan dari upaya melindungi privasi anak bukanlah melarang orang tua menggunakan media sosial atau berhenti membagikan momen berharga bersama keluarga. Media sosial tetap dapat menjadi sarana yang positif untuk berbagi pengalaman dan menjalin koneksi dengan orang lain, selama digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Yang perlu dibangun adalah perubahan pola pikir, dari kebiasaan untuk langsung membagikan konten menjadi kebiasaan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan. Setiap foto, video, maupun informasi yang melibatkan anak dapat membawa konsekuensi privasi yang nyata, sehingga orang tua memiliki peran penting sebagai garis pertahanan pertama dalam melindungi data dan identitas anak.

Temuan dari studi Kaspersky dan SIT menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup untuk mengurangi risiko. Diperlukan langkah-langkah nyata, meskipun sederhana, untuk memperkuat perlindungan privasi anak dan menutup celah keamanan yang selama ini sering dianggap tidak signifikan.

Baca juga: Risiko Keamanan Digital pada Orang Tua di Tengah Maraknya Scam

Kesimpulan

Privasi anak di era digital merupakan tanggung jawab yang tidak dapat diabaikan. Setiap informasi yang dibagikan secara online berpotensi meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, langkah-langkah sederhana seperti mengatur privasi akun, menonaktifkan fitur lokasi, serta membangun kesadaran keamanan digital sejak dini dapat menjadi upaya penting untuk melindungi data dan privasi anak dalam jangka panjang.