<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=2253229985023706&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

back to HRMI

Risiko Keamanan Digital pada Orang Tua di Tengah Maraknya Scam

Read Time 6 mins | 28 Apr 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Risiko Keamanan Digital pada Orang Tua

Seiring meningkatnya penggunaan teknologi seperti smartphone, media sosial, dan aplikasi perbankan digital, berbagai ancaman baru mulai bermunculan dan menyasar kelompok yang dianggap lebih rentan—salah satunya adalah orang tua. Fenomena scam atau penipuan digital kini semakin canggih, tidak hanya memanfaatkan celah teknologi, tetapi juga mengeksploitasi faktor psikologis manusia. Akibatnya, risiko keamanan digital pada orang tua semakin meningkat, terutama ketika mereka belum sepenuhnya memahami cara kerja ancaman tersebut.

Penyebab Orang Tua Mudah Terjebak Scam Digital

Ada beberapa faktor utama yang membuat orang tua lebih rentan terhadap ancaman digital, baik dari sisi pemahaman teknologi maupun aspek perilaku sehari-hari.

  1. Literasi Digital yang Terbatas
    Tidak semua orang tua tumbuh di era digital, sehingga banyak yang baru mengenal teknologi di usia dewasa. Kondisi ini membuat pemahaman terhadap risiko seperti phishing, malware, atau social engineering masih terbatas dan lebih sulit untuk mengenali ancaman.
  2. Tingkat Kepercayaan yang Tinggi
    Orang tua cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap orang lain, terutama jika pesan terlihat meyakinkan. Hal ini sering dimanfaatkan oleh pelaku scam untuk menyamar sebagai pihak terpercaya seperti bank, keluarga, atau instansi resmi.
  3. Kurangnya Skeptisisme terhadap Informasi Digital
    Berbeda dengan generasi muda yang lebih terbiasa dengan hoaks dan scam, orang tua sering kali menganggap informasi dari pesan atau email sebagai sesuatu yang valid tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
  4. Ketergantungan pada Perangkat Digital
    Saat ini banyak orang tua menggunakan smartphone untuk aktivitas penting seperti perbankan, komunikasi keluarga, hingga belanja online. Tanpa pemahaman keamanan yang memadai, ketergantungan ini justru meningkatkan risiko keamanan digital secara signifikan.

Keseluruhan faktor ini menunjukkan bahwa kerentanan bukan hanya berasal dari teknologi, tetapi juga dari kebiasaan dan pola pikir dalam menggunakan perangkat digital.

Baca juga: 7 Bias Psikologis yang Membuat Korban Mudah Terjebak Online Scam

Jenis Scam yang Paling Sering Menargetkan Orang Tua

Berbagai jenis scam terus berkembang dan semakin canggih, namun ada beberapa pola penipuan yang paling sering menyasar orang tua.

  • Phishing
    Phishing adalah upaya penipuan dengan menyamar sebagai pihak terpercaya untuk mencuri informasi sensitif seperti password, PIN, atau OTP. Biasanya dilakukan melalui pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau email palsu yang meminta verifikasi akun.
  • Scam Hadiah atau Undian
    Pelaku menawarkan hadiah besar seperti mobil atau uang tunai untuk menarik perhatian korban. Namun, korban diminta membayar biaya administrasi terlebih dahulu, yang sebenarnya adalah modus penipuan.
  • Penipuan Mengatasnamakan Keluarga
    Dalam modus ini, pelaku berpura-pura menjadi anak atau anggota keluarga yang sedang dalam keadaan darurat. Dengan memanfaatkan emosi, korban didorong untuk segera mengirimkan uang tanpa berpikir panjang.
  • Investasi Bodong
    Penawaran investasi dengan keuntungan tinggi dalam waktu singkat sering kali menjadi jebakan. Orang tua yang ingin mengembangkan tabungan lebih mudah tergoda tanpa menyadari risiko yang sebenarnya.
  • Tech Support Scam
    Pelaku mengaku sebagai teknisi dari perusahaan teknologi dan menyatakan bahwa perangkat korban terinfeksi virus. Mereka kemudian meminta akses atau pembayaran untuk “memperbaiki” masalah yang sebenarnya tidak ada.

Memahami berbagai jenis scam ini menjadi langkah penting agar orang tua dapat lebih waspada dan tidak mudah terjebak dalam skema penipuan.

Dampak Risiko Keamanan Digital bagi Orang Tua

Risiko keamanan digital tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan sosial seseorang.

  • Kerugian Finansial: Banyak korban kehilangan tabungan dalam jumlah besar akibat scam, bahkan dalam beberapa kasus sulit untuk dipulihkan kembali.
  • Kebocoran Data Pribadi: Informasi seperti KTP, nomor rekening, dan password yang bocor dapat digunakan untuk berbagai kejahatan lain, termasuk pencurian identitas.
  • Trauma Psikologis: Korban scam sering merasa malu, takut, dan kehilangan kepercayaan diri, sehingga enggan kembali menggunakan teknologi digital.
  • Gangguan Hubungan Sosial: Dalam beberapa kasus, scam yang mengatasnamakan keluarga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan konflik antar anggota keluarga.

Dampak ini menunjukkan bahwa risiko keamanan digital bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Social Engineering dalam Scam

Sebagian besar scam tidak bergantung pada teknologi canggih, tetapi pada teknik manipulasi psikologis yang dikenal sebagai social engineering. Pelaku biasanya menggunakan beberapa pendekatan berikut:

  • Urgensi: Memaksa korban untuk bertindak cepat
  • Otoritas: Mengaku sebagai pihak resmi
  • Emosi: Memanfaatkan rasa takut atau kasih sayang
  • Kepercayaan: Menyamar sebagai orang yang dikenal

Orang tua sering menjadi target utama karena pendekatan ini sangat efektif jika tidak disertai dengan kesadaran keamanan digital yang cukup.

Tanda-Tanda Scam yang Harus Diwaspadai

Ada beberapa ciri umum scam yang perlu dikenali agar tidak mudah terjebak dalam penipuan digital. Biasanya, pelaku akan mengirimkan pesan mendesak yang meminta tindakan segera, seperti transfer uang atau verifikasi akun. Selain itu, mereka sering meminta informasi sensitif seperti PIN, OTP, atau password, yang seharusnya tidak pernah dibagikan kepada siapa pun. Tautan mencurigakan atau domain yang tidak resmi juga menjadi indikator penting, terutama jika terlihat mirip tetapi tidak identik dengan situs asli.

Di sisi lain, tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan—seperti hadiah besar tanpa usaha—perlu diwaspadai karena sering menjadi jebakan. Pesan scam juga kerap memiliki kesalahan tata bahasa atau format yang tidak profesional. Memahami dan mengenali tanda-tanda ini merupakan langkah awal yang penting untuk mengurangi risiko keamanan digital, terutama bagi orang tua yang menjadi target utama penipuan.

Cara Meningkatkan Keamanan Digital untuk Orang Tua

Untuk mengurangi risiko keamanan digital, diperlukan langkah-langkah praktis yang mudah dipahami dan diterapkan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Edukasi Secara Bertahap
    Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami untuk menjelaskan konsep dasar keamanan digital. Fokus pada hal-hal praktis seperti tidak membagikan OTP, selalu mengecek sumber informasi, dan menghindari klik link sembarangan agar lebih mudah diterapkan.
  2. Gunakan Autentikasi Dua Faktor (2FA)
    Autentikasi dua faktor memberikan lapisan perlindungan tambahan pada akun penting seperti email dan mobile banking. Dengan fitur ini, meskipun password diketahui orang lain, akun tetap tidak mudah diakses tanpa verifikasi tambahan.
  3. Pasang Aplikasi Keamanan
    Menggunakan aplikasi antivirus atau keamanan dapat membantu mendeteksi ancaman seperti malware atau aplikasi berbahaya sejak dini. Ini menjadi perlindungan tambahan terutama bagi pengguna yang belum terbiasa mengenali ancaman digital.
  4. Batasi Informasi Pribadi di Media Sosial
    Membagikan terlalu banyak informasi pribadi di media sosial dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan data. Semakin sedikit informasi yang tersedia secara publik, semakin kecil peluang pelaku scam memanfaatkannya.
  5. Verifikasi Informasi Secara Langsung
    Jika menerima pesan mencurigakan, penting untuk tidak langsung percaya. Pastikan untuk menghubungi pihak terkait melalui nomor resmi dan melakukan konfirmasi sebelum mengambil tindakan apa pun.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara konsisten, orang tua dapat meningkatkan keamanan digital mereka dan lebih terlindungi dari berbagai bentuk scam yang semakin berkembang.

Peran Keluarga dalam Melindungi Orang Tua

Keamanan digital bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Membantu setting keamanan di perangkat
  • Mengedukasi secara rutin
  • Menjadi tempat bertanya ketika ada hal mencurigakan
  • Tidak menghakimi jika orang tua melakukan kesalahan

Pendekatan yang suportif akan lebih efektif dibandingkan pendekatan yang menyalahkan.

Baca juga: Mengapa Edukasi Keamanan Digital Itu Penting?

Kesimpulan

Risiko keamanan digital pada orang tua merupakan isu yang semakin penting di tengah maraknya scam. Faktor seperti literasi digital yang terbatas, tingkat kepercayaan yang tinggi, dan kurangnya awareness membuat mereka menjadi target empuk bagi pelaku kejahatan siber. Namun, risiko ini bukan tidak bisa diminimalkan. Dengan edukasi yang tepat, dukungan keluarga, serta penerapan praktik keamanan digital yang baik, orang tua dapat menjadi lebih waspada dan terlindungi.

Pada akhirnya, keamanan digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang perilaku, kebiasaan, dan kesadaran. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi semua—termasuk orang tua kita.

Satu Solusi Kelola Keamanan Siber Karyawan Secara Simple & Otomatis

Nur Rachmi Latifa

Penulis yang berfokus memproduksi konten seputar Cybersecurity, Privacy dan Human Cyber Risk Management.

WhatsApp Icon Mira