<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=2253229985023706&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

back to HRMI

Modus Social Engineering di Social Media yang Sering Terjadi

Read Time 8 mins | 18 Mei 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Modus Social Engineering

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk komunikasi, hiburan, maupun aktivitas profesional. Namun dibalik kemudahannya, platform digital juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan berbagai modus social engineering yang menargetkan kelemahan psikologis manusia. Mulai dari phishing, akun palsu, hingga manipulasi berbasis AI, serangan ini semakin sulit dikenali karena sering dikemas secara natural dan meyakinkan di media sosial.

 

Memahami Ancaman Social Engineering di Media Sosial

Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari komunikasi hingga aktivitas profesional. Namun dibalik kemudahannya, ancaman social engineering semakin meningkat karena pelaku memanfaatkan manipulasi psikologis seperti rasa percaya, takut, penasaran, dan urgensi untuk memengaruhi korban. Dalam penelitian “Social Engineering on Social Media Platforms: An Interdisciplinary Study of Technical Design and the Shaping of Online Collective Behavior” oleh Romi Mesra (2025), dijelaskan bahwa media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga mampu membentuk perilaku pengguna melalui algoritma, sistem rekomendasi, dan desain platform digital.

Secara umum, social engineering adalah teknik manipulasi psikologis untuk mendapatkan informasi sensitif atau mendorong korban melakukan tindakan tertentu. Romi Mesra (2025) menjelaskan bahwa social engineering di platform digital memanfaatkan strategi psikologis, sosial, dan komunikatif yang terintegrasi dalam desain teknologi untuk mempengaruhi perilaku manusia secara luas. Hal ini juga diperkuat oleh Shoshana Zuboff dalam “The Age of Surveillance Capitalism” (2019) yang menjelaskan bahwa platform digital modern menggunakan data perilaku pengguna untuk mempengaruhi keputusan dan interaksi mereka secara sistematis.

Ancaman ini semakin efektif karena algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten emosional dan viral demi meningkatkan engagement pengguna. Penelitian Mesra (2025) menemukan bahwa algoritma media sosial bekerja sebagai “social agents” yang mampu mempengaruhi perilaku kolektif melalui mekanisme viral amplification dan behavioral modification. Akibatnya, media sosial menjadi lahan subur bagi berbagai modus social engineering seperti phishing, impersonation, fake giveaway, hingga penyebaran disinformasi yang memanfaatkan kelemahan psikologis manusia.

Baca juga: Cara Mendeteksi Akun Palsu dan Pesan Manipulatif di Media Sosial

Mengapa Social Engineering di Social Media Sangat Efektif?

Social engineering menjadi sangat efektif di media sosial karena platform digital dirancang untuk mendorong interaksi cepat, keterlibatan emosional, dan rasa percaya antar pengguna. Kombinasi antara perilaku manusia dan algoritma media sosial membuat penyerang lebih mudah memanipulasi korban tanpa disadari.

  1. Informasi Pengguna Sangat Terbuka
    Banyak pengguna secara tidak sadar membagikan informasi pribadi seperti tanggal lahir, lokasi, tempat kerja, aktivitas harian, hingga foto dokumen tertentu di media sosial. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan pelaku untuk membangun skenario penipuan yang terlihat sangat meyakinkan dan personal.
  2. Faktor Emosi Lebih Dominan
    Media sosial dirancang untuk memancing respons emosional melalui notifikasi, likes, komentar, trending topic, dan konten viral. Penelitian Mesra (2025) menjelaskan bahwa algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten emosional dan sensasional karena lebih efektif meningkatkan engagement pengguna. Akibatnya, pengguna lebih mudah bereaksi impulsif tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
  3. Tingkat Kepercayaan Tinggi Antar Pengguna
    Banyak orang lebih percaya pesan yang berasal dari teman, rekan kerja, influencer, atau akun komunitas tertentu. Padahal dalam banyak kasus, akun tersebut bisa saja telah diretas atau dipalsukan untuk menjalankan aksi penipuan maupun phishing.

Karena itulah, social engineering di media sosial sering kali lebih berbahaya dibanding serangan teknis biasa. Penyerang tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga kelemahan psikologis manusia untuk mencapai tujuannya.

Modus Social Engineering yang Sering Terjadi di Social Media

Dalam penelitian Mesra (2025), dijelaskan bahwa berbagai modus social engineering di media sosial terus berkembang mengikuti perilaku pengguna dan perkembangan teknologi digital. Penyerang memanfaatkan rasa percaya, emosi, hingga urgensi untuk memanipulasi korban agar memberikan data, uang, maupun akses tertentu tanpa disadari.

1. Phishing melalui Direct Message (DM)

Phishing melalui DM merupakan salah satu modus paling umum di media sosial. Pelaku biasanya mengirim pesan pribadi yang terlihat resmi untuk memancing korban mengklik link tertentu atau login ke halaman palsu. Biasanya mengenai:

  • link hadiah
  • promo palsu
  • verifikasi akun
  • pemberitahuan pelanggaran akun
  • undangan kerja sama

Contoh pesan yang sering digunakan adalah “Akun Anda terancam diblokir. Silakan verifikasi sekarang.” Teknik ini efektif karena memanfaatkan rasa panik dan urgensi korban.

2. Impersonation atau Penyamaran Identitas

Dalam modus ini, pelaku membuat akun palsu yang menyerupai orang atau institusi tertentu agar korban percaya. Foto profil, nama akun, hingga gaya komunikasi dibuat semirip mungkin dengan akun asli. Pelaku biasanya menyamar sebagai:

  • teman
  • atasan
  • customer service
  • influencer
  • brand terkenal

Biasanya akun palsu tersebut digunakan untuk meminta transfer uang, OTP, data pribadi, atau menyebarkan malware. Di LinkedIn, modus ini juga sering digunakan dengan menyamar sebagai recruiter perusahaan besar.

3. Giveaway dan Hadiah Palsu

Modus giveaway palsu banyak ditemukan di Instagram dan TikTok karena memanfaatkan keinginan pengguna untuk mendapatkan hadiah secara instan. Pelaku menawarkan hadiah menarik agar korban mengikuti instruksi tertentu seperti:

  • iPhone gratis
  • saldo e-wallet
  • tiket konser
  • voucher belanja

Korban biasanya diminta mengklik link, login akun, mengisi data pribadi, atau membayar “biaya administrasi” yang sebenarnya bertujuan mencuri akun maupun data sensitif.

4. Fake Customer Service

Penipu sering memanfaatkan kolom komentar media sosial ketika seseorang mengeluhkan layanan sebuah brand atau perusahaan. Pelaku kemudian berpura-pura menjadi customer service resmi dan mengarahkan korban untuk menghubungi akun atau nomor tertentu di luar platform.

Contoh pesan yang sering digunakan adalah “Halo Kak, silakan hubungi admin kami di WhatsApp berikut untuk bantuan lebih lanjut.” Setelah korban terhubung, pelaku mulai melakukan manipulasi untuk pencurian rekening, pengambilalihan akun, maupun penipuan OTP dengan mengatasnamakan bantuan pelanggan resmi.

5. Clickbait dan Berita Viral

Modus ini memanfaatkan rasa penasaran pengguna melalui judul sensasional dan viral agar korban segera mengklik tautan tertentu. Penelitian Mesra (2025) menjelaskan bahwa algoritma media sosial mempercepat penyebaran konten emosional dan sensasional melalui mekanisme viral amplification. Contohnya seperti headline konten berikut:

  • “Video skandal terbaru!”
  • “Lihat siapa yang meninggal hari ini!”
  • “Foto Anda muncul di berita ini!”

Saat link dibuka, korban dapat diarahkan ke situs phishing, malware downloader, atau halaman iklan berbahaya.

6. Romance Scam

Romance scam dilakukan dengan membangun hubungan emosional secara intens melalui media sosial dalam jangka waktu tertentu. Setelah korban percaya, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan.

  • menggunakan foto palsu
  • mengaku bekerja di luar negeri
  • membangun komunikasi intens dalam waktu lama

Alasan yang sering digunakan meliputi biaya pengiriman hadiah, kecelakaan, masalah bisnis, hingga biaya administrasi tertentu.

7. Social Proof Manipulation

Pelaku memanfaatkan psikologi “ikut-ikutan” atau fear of missing out (FOMO) agar suatu akun, produk, maupun penawaran terlihat terpercaya di mata korban. Modus ini sering dilakukan dengan menciptakan ilusi popularitas dan kredibilitas melalui berbagai aktivitas palsu di media sosial.

Beberapa bentuk manipulasi yang umum digunakan meliputi komentar palsu, testimoni palsu, jumlah followers palsu, hingga engagement palsu. Penelitian Mesra (2025) menjelaskan bahwa media sosial menciptakan quantified social environment melalui metrics seperti likes dan engagement yang dapat mempengaruhi perilaku sosial pengguna.

8. Fake Job Recruitment

Modus lowongan kerja palsu banyak ditemukan di LinkedIn dan Telegram. Pelaku biasanya menawarkan pekerjaan menarik dengan iming-iming gaji tinggi, sistem kerja remote, dan proses rekrutmen cepat untuk memancing korban memberikan data pribadi atau melakukan pembayaran tertentu.

Beberapa penawaran yang sering digunakan antara lain pekerjaan remote, gaji tinggi, dan proses cepat tanpa tahapan seleksi yang jelas. Korban kemudian diminta mengirim data pribadi, membayar biaya administrasi, atau menginstal aplikasi tertentu yang sebenarnya bertujuan mencuri data maupun menyebarkan malware.

9. Deepfake dan Voice Cloning

Perkembangan AI membuat modus social engineering semakin canggih dan sulit dikenali. Pelaku kini dapat menggunakan teknologi seperti video deepfake, suara palsu, dan wajah sintetis untuk menyamar sebagai orang tertentu secara sangat meyakinkan.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyamar sebagai CEO, anggota keluarga, rekan kerja, maupun public figure agar korban lebih mudah percaya. Karena visual dan suara terlihat realistis, korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan identitas palsu hasil manipulasi AI.

Cara Menghindari Social Engineering di Social Media

Ancaman social engineering di media sosial dapat menyerang siapa saja, baik individu maupun perusahaan. Karena itu, penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan memahami langkah-langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban manipulasi digital.

  1. Jangan Mudah Percaya Pesan Mendesak
    Jika menerima pesan yang memancing rasa panik atau urgensi, jangan langsung mengambil tindakan. Biasakan untuk berhenti sejenak, mengecek ulang informasi, dan melakukan verifikasi melalui sumber resmi sebelum memberikan data atau mengklik tautan tertentu.
  2. Periksa Username dengan Teliti
    Banyak akun palsu menggunakan nama yang sangat mirip dengan akun asli, misalnya dengan tambahan titik, angka, atau huruf yang menyerupai karakter tertentu seperti @bankresmi_ atau @bank.resmii. Karena itu, selalu periksa detail username sebelum mempercayai suatu akun.
  3. Jangan Klik Link Sembarangan
    Hindari mengklik tautan yang berasal dari DM, menggunakan shortlink mencurigakan, atau menawarkan hadiah yang tidak masuk akal. Link semacam ini sering digunakan untuk mengarahkan korban ke situs phishing maupun malware.
  4. Aktifkan MFA atau Two-Factor Authentication
    Mengaktifkan MFA atau two-factor authentication dapat membantu melindungi akun meskipun password berhasil dicuri. Lapisan keamanan tambahan ini membuat akun lebih sulit diambil alih oleh pelaku.
  5. Batasi Informasi Pribadi di Profil
    Hindari membagikan informasi sensitif seperti alamat rumah, nomor telepon, data keluarga, maupun jadwal rutin di media sosial. Semakin banyak informasi yang tersedia secara publik, semakin mudah pelaku membangun skenario manipulasi yang meyakinkan.
  6. Tingkatkan Awareness Karyawan
    Bagi perusahaan, edukasi security awareness sangat penting karena manusia sering menjadi target utama serangan social engineering. Program awareness membantu karyawan mengenali manipulasi digital, memahami red flag, dan melaporkan insiden lebih cepat sebelum berdampak lebih besar.

Pada akhirnya, perlindungan terbaik terhadap social engineering bukan hanya teknologi, tetapi juga kewaspadaan pengguna. Semakin tinggi kesadaran digital seseorang, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi korban manipulasi di media sosial.

Baca juga: Cara Serangan Social Engineering Mengeksploitasi Psikologi Manusia

Kesimpulan

Social engineering di media sosial terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan perilaku digital masyarakat. Penyerang tidak lagi hanya mengandalkan teknik hacking teknis, tetapi lebih fokus memanipulasi psikologi manusia melalui rasa percaya, emosi, dan urgensi. Didukung algoritma media sosial yang mempercepat penyebaran konten viral dan emosional, ancaman social engineering menjadi semakin sulit dikenali.

Penelitian menunjukkan bahwa desain platform, sistem notifikasi, hingga mekanisme engagement memang dapat memengaruhi perilaku pengguna secara sistematis. Karena itu, kesadaran digital menjadi pertahanan utama. Semakin tinggi pemahaman pengguna terhadap modus social engineering, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi korban manipulasi digital di media sosial.

Satu Solusi Kelola Keamanan Siber Karyawan Secara Simple & Otomatis

Nur Rachmi Latifa

Penulis yang berfokus memproduksi konten seputar Cybersecurity, Privacy dan Human Cyber Risk Management.

WhatsApp Icon Mira