<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=2253229985023706&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

back to HRMI

Risiko Siber Meningkat, Zoom dan GitLab Perkuat Sistem Keamanan

Read Time 6 mins | 20 Feb 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Zoom dan GitLab Perkuat Sistem Keamanan

Pekan ini, dua platform teknologi global—Zoom dan GitLab telah merilis pembaruan keamanan darurat setelah menemukan celah kritis pada sistem mereka. Langkah cepat ini diambil untuk menutup kerentanan berbahaya yang berpotensi dieksploitasi penyerang siber dan mengancam jutaan organisasi di seluruh dunia. Insiden ini kembali menegaskan bahwa risiko siber tidak lagi bersifat hipotetis. Kerentanan perangkat lunak, jika tidak segera ditangani, dapat berujung pada pengambilalihan jaringan, gangguan operasional, hingga kerugian bisnis yang masif. Dalam konteks transformasi digital yang semakin agresif, pembaruan keamanan bukan sekadar isu teknis, melainkan fondasi utama keberlangsungan bisnis.

Lonjakan Risiko Siber di Era Kerja Digital

Perubahan pola kerja global mendorong percepatan adopsi teknologi digital di berbagai sektor. Kolaborasi jarak jauh, penggunaan aplikasi rapat daring, serta platform DevOps terintegrasi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional perusahaan modern. Transformasi ini membawa efisiensi tinggi, tetapi sekaligus memperluas permukaan serangan (attack surface) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Aplikasi rapat virtual dan platform pengelolaan kode sumber kini bukan sekadar alat pendukung, melainkan tulang punggung proses bisnis, pengambilan keputusan, dan pengembangan produk. Ketergantungan yang tinggi terhadap sistem digital membuat gangguan kecil sekalipun berpotensi menimbulkan dampak besar, mulai dari terhentinya operasional hingga terganggunya kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis.

Dalam kondisi tersebut, penyerang siber semakin agresif memanfaatkan celah teknis untuk melancarkan serangan berdampak tinggi, seperti remote code execution, denial-of-service (DoS), hingga upaya memotong mekanisme autentikasi. Serangan-serangan ini tidak hanya menyasar data, tetapi juga menargetkan stabilitas layanan dan reputasi perusahaan, menjadikan keamanan siber sebagai isu strategis yang tidak bisa lagi diabaikan.

Baca juga: Indonesia Sumber Serangan DDoS Terbesar: Apa Artinya bagi Bisnis?

Zoom Rilis Patch Darurat: CVE-2026-22844 Jadi Sorotan

Fokus utama pembaruan keamanan Zoom tertuju pada kerentanan kritis dengan kode CVE-2026-22844. Celah ini memperoleh skor 9,9 dari 10,0 berdasarkan Common Vulnerability Scoring System (CVSS)—kategori yang menandakan tingkat keparahan ekstrem atau bencana total jika berhasil dieksploitasi.

Dalam keterangan resminya, manajemen Zoom menjelaskan bahwa kerentanan ini merupakan command injection vulnerability yang memengaruhi Zoom Node Multimedia Routers (MMRs) sebelum versi 5.2.1716.0. Kerentanan tersebut memungkinkan peserta rapat untuk mengeksekusi kode jarak jauh hanya melalui akses jaringan.

Artinya, seorang penyerang tidak memerlukan hak administratif khusus. Cukup dengan bergabung ke sebuah rapat, pelaku berpotensi mengirimkan perintah berbahaya yang dapat mengambil alih sistem atau mengakses data sensitif dalam infrastruktur jaringan perusahaan.

Dampak Nyata bagi Infrastruktur Perusahaan

Eksploitasi celah ini membuka skenario serangan yang sangat berbahaya. Peserta rapat—bahkan dalam pertemuan rutin dapat menjadi pintu masuk untuk kompromi jaringan secara menyeluruh. Dampaknya tidak terbatas pada satu aplikasi, melainkan dapat merembet ke sistem internal lain yang terhubung.

Zoom secara tegas mengimbau pelanggan yang menggunakan Zoom Node Meetings, Hybrid, maupun Meeting Connector untuk segera memperbarui sistem mereka. Modul yang teridentifikasi rentan mencakup:

  • Zoom Node Meetings Hybrid (ZMH)
  • Zoom Node Meeting Connector (MC)

Semua modul tersebut harus diperbarui ke versi 5.2.1716.0 atau lebih baru untuk menutup celah keamanan yang ditemukan.

GitLab Hadapi Lima Kerentanan Serius Sekaligus

Tidak hanya Zoom, GitLab juga menghadapi situasi genting dengan ditemukannya lima celah keamanan terpisah yang memengaruhi edisi Community (CE) dan Enterprise (EE). Pembaruan darurat dirilis untuk mencegah berbagai skenario serangan, termasuk penghentian layanan secara total.

Kerentanan paling menonjol adalah CVE-2025-13927, yang memiliki skor CVSS 7,5. Celah ini memungkinkan penyerang tanpa autentikasi untuk membuat GitLab mengalami crash total hanya dengan mengirimkan permintaan berisi data autentikasi yang cacat.

Serangan ini sangat berbahaya karena tidak memerlukan kredensial apa pun. Akibatnya, pipeline pengembangan perangkat lunak dapat terhenti mendadak, mengganggu siklus rilis, dan berdampak langsung pada operasional bisnis.

Ancaman Bypass Autentikasi Dua Faktor (2FA)

Selain DoS, GitLab juga menambal kerentanan CVE-2026-0723 yang memungkinkan pelaku dengan pengetahuan ID kredensial korban untuk memotong perlindungan autentikasi dua faktor (2FA). Padahal, 2FA selama ini dianggap sebagai lapisan keamanan penting untuk melindungi akun dari pengambilalihan.

Jika celah ini dieksploitasi, penyerang berpotensi memperoleh akses ke repositori kode, pipeline CI/CD, hingga konfigurasi sistem yang bersifat kritis. Dampaknya tidak hanya teknis, tetapi juga strategis, mengingat kode sumber merupakan aset intelektual utama perusahaan teknologi.

Risiko Siber Meningkat: Ancaman Nyata bagi Bisnis Digital

Kasus Zoom dan GitLab menunjukkan pola yang sama: satu celah keamanan dapat menjadi titik awal gangguan berskala besar. Risiko siber tidak lagi terbatas pada pencurian data, tetapi juga mencakup:

  • Penghentian layanan operasional
  • Kerusakan reputasi perusahaan
  • Kerugian finansial akibat downtime
  • Hilangnya kepercayaan pelanggan dan mitra

Dalam banyak kasus, dampak terbesar justru berasal dari gangguan operasional, bukan sekadar insiden teknis. Oleh karena itu, keamanan siber harus dipandang sebagai isu manajemen risiko, bukan hanya tanggung jawab tim IT.

Imbauan BSSN: Update Sistem dan Perkuat Konfigurasi Keamanan

Di Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) turut memberikan perhatian terhadap perkembangan ini. Melalui unggahan di Instagram resminya, BSSN mengimbau seluruh pengguna dan organisasi untuk segera memperbarui aplikasi ke versi terbaru. BSSN juga menekankan pentingnya langkah-langkah berikut:

  1. Memverifikasi konfigurasi keamanan sistem
  2. Mengunduh aplikasi hanya dari sumber resmi
  3. Melakukan pemantauan aktivitas sistem secara rutin

Imbauan ini menegaskan bahwa pembaruan perangkat lunak harus dibarengi dengan evaluasi konfigurasi dan pemantauan berkelanjutan agar ancaman dapat dideteksi sejak dini.

Patch Management Bukan Lagi Opsional

Banyak organisasi masih memandang pembaruan sistem sebagai aktivitas yang bisa ditunda. Padahal, dalam konteks risiko siber yang meningkat, keterlambatan patch dapat membuka peluang eksploitasi dalam hitungan jam atau hari setelah kerentanan dipublikasikan. Praktik patch management yang baik mencakup:

  • Inventarisasi aset digital
  • Penilaian tingkat risiko setiap kerentanan
  • Penerapan pembaruan secara terencana dan cepat
  • Pengujian pasca-patch untuk memastikan stabilitas sistem

Tanpa pendekatan sistematis, organisasi akan selalu berada selangkah di belakang pelaku kejahatan siber.

Peran Manusia dalam Sistem Keamanan

Meski teknologi berperan besar, faktor manusia tetap menjadi elemen kunci dalam keamanan siber. Kesalahan konfigurasi, keterlambatan update, atau kurangnya kesadaran risiko dapat memperbesar dampak sebuah celah teknis. Oleh karena itu, organisasi perlu mengkombinasikan solusi teknis dengan:

  • Edukasi kesadaran keamanan siber
  • Prosedur respons insiden yang jelas
  • Budaya keamanan yang kuat di seluruh lini organisasi

Keamanan bukan hanya soal sistem, tetapi juga perilaku dan pengambilan keputusan manusia di baliknya.

Zoom dan GitLab: Langkah Cepat yang Patut Dicontoh

Meski dihadapkan pada kerentanan keamanan yang serius, langkah cepat yang diambil Zoom dan GitLab patut menjadi contoh bagi industri teknologi. Transparansi dalam mengungkap detail celah keamanan, disertai rilis pembaruan darurat, menunjukkan komitmen kedua platform dalam melindungi pengguna dan menjaga kepercayaan organisasi yang bergantung pada layanan mereka dalam aktivitas bisnis sehari-hari.

Namun, upaya pengamanan tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada penyedia layanan. Pengguna dan organisasi memiliki peran krusial untuk segera menerapkan pembaruan, memeriksa kembali konfigurasi sistem, serta meninjau postur keamanan secara berkala. Tanpa tindakan proaktif dari sisi pengguna, bahkan sistem dengan pembaruan terbaik sekalipun tetap berisiko dieksploitasi.

Baca juga: Apakah Regulasi Keamanan Siber Global Sudah Efektif? Ini Evaluasinya

Kesimpulan

Kasus pembaruan darurat Zoom dan GitLab menjadi pengingat kuat bahwa risiko siber meningkat seiring kompleksitas sistem digital. Kerentanan kritis dapat muncul kapan saja, bahkan pada platform yang digunakan jutaan organisasi global. Dalam menghadapi realitas ini, tidak ada jalan pintas. Kombinasi antara teknologi yang mutakhir, manajemen patch yang disiplin, konfigurasi keamanan yang tepat, serta kesadaran manusia yang tinggi menjadi fondasi utama sistem keamanan modern. Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya mampu merespons ancaman, tetapi juga membangun ketahanan siber jangka panjang di tengah lanskap digital yang terus berubah.

Satu Solusi Kelola Keamanan Siber Karyawan Secara Simple & Otomatis

Nur Rachmi Latifa

Penulis yang berfokus memproduksi konten seputar Cybersecurity, Privacy dan Human Cyber Risk Management.

WhatsApp Icon Mira