<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=2253229985023706&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

back to HRMI

Apa Saja yang Dijual di Dark Web? Fakta Mencengangkan

Read Time 8 mins | 27 Apr 2025 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Dark Web

Dark web menjual data pribadi, kredensial perbankan, kartu kredit ber-CVV, narkoba, senjata, malware, dokumen palsu, jasa peretasan, hingga akses ke database perusahaan. Komoditas paling laris adalah data pribadi karena bisa langsung dipakai untuk penipuan identitas, dan harganya sering kali lebih murah dari yang dibayangkan.

Sebagai gambaran, Dark Web Price Index 2025 dari Comparitech mencatat kartu kredit lengkap dengan CVV dijual mulai USD 10 sampai USD 40, sementara paket identitas lengkap (“fullz”) berkisar USD 20 hingga USD 100. Artikel ini merinci sembilan kategori yang umum dijual di dark web, bagaimana pelaku memanfaatkannya, dan langkah konkret untuk melindungi identitas digital Anda.

Memahami Dark Web: Antara Anonimitas dan Risiko

Dark web adalah bagian tersembunyi dari internet yang tidak dapat diakses melalui mesin pencari biasa seperti Google atau Bing. Untuk mengaksesnya, pengguna memerlukan peramban khusus seperti Tor (The Onion Router) atau I2P yang dirancang untuk menjaga anonimitas. Secara teknis mengaksesnya tidak ilegal, tetapi dark web sering dikaitkan dengan aktivitas terlarang karena minimnya regulasi dan tingginya tingkat kerahasiaan. Kombinasi kerahasiaan identitas dan kebebasan akses inilah yang membuat banyak orang penasaran sekaligus takut dengan isinya.

Internet terbagi ke dalam tiga lapisan utama: open web, deep web, dan dark web. Open web atau surface web adalah bagian yang bisa diakses publik dan terindeks mesin pencari, seperti situs berita, blog, dan e-commerce. Deep web mencakup konten yang tidak terindeks, seperti email, dokumen di layanan cloud, hingga data perbankan yang memerlukan login. Dark web merupakan bagian dari deep web dengan tingkat anonimitas jauh lebih tinggi, dan kerap dipakai untuk aktivitas yang sengaja disembunyikan, termasuk jual beli ilegal.

Untuk menjelajahi dark web, seseorang perlu peramban seperti Tor yang menyamarkan jejak digital dengan merutekan koneksi melalui jaringan server global secara acak. Berbeda dari alamat website biasa, situs di dark web memakai alamat berisi kombinasi karakter acak dengan akhiran “.onion” yang sulit diingat dan sering berganti. Karena itu banyak kontennya tersembunyi rapat dan hanya bisa diakses bila seseorang mengetahui tautan langsungnya. Inilah yang menjadikan dark web dunia tertutup dengan risiko tinggi, terutama bagi yang belum memahami isinya. Bekal security awareness yang memadai menjadi pembeda antara pengguna yang waspada dan yang rentan menjadi korban.

Baca juga: Klik Sembarangan Berbahaya! Begini Cara Hacker Curi Informasi Pribadi

Apa Saja yang Dijual di Dark Web? 9 Kategori Utama

Tidak semua aktivitas di dark web bersifat ilegal, tetapi sebagian besar perdagangannya melibatkan barang dan jasa yang dilarang hukum di banyak negara. Sifat anonim dan sulit dilacak membuatnya menjadi tempat ideal bagi transaksi gelap yang mustahil dilakukan terbuka di internet biasa. Berikut sembilan kategori yang umum diperjualbelikan, lengkap dengan penjelasannya.

1. Data Pribadi

Salah satu komoditas paling laris di dark web adalah data pribadi. Informasi ini bisa berupa login akun media sosial dan email, nomor KTP, NPWP, alamat rumah, hingga rekam medis dan data asuransi. Dalam banyak kasus, data dijual dalam bentuk “fullz”, yaitu satu paket identitas lengkap yang dapat dipakai untuk penipuan identitas, pengajuan pinjaman ilegal, atau pengambilalihan akun penting. Comparitech mencatat harga paket fullz berkisar USD 20 hingga USD 100, tergantung kelengkapan datanya.

2. Kredensial Perbankan dan Kartu Kredit

Dark web menjadi pasar gelap bagi informasi keuangan seperti nomor kartu kredit dan debit lengkap dengan CVV, tanggal kedaluwarsa, bahkan PIN. Login internet banking dan akun e-wallet juga tersedia, sering kali dihargai berdasarkan saldo aktif. Menurut Dark Web Price Index Comparitech, kartu kredit ber-CVV dijual sekitar USD 10 hingga USD 40, sedangkan kredensial akun bank bersaldo tinggi bisa menembus USD 1.000. Pembeli memanfaatkannya untuk pembelian ilegal atau pencucian uang lewat transaksi digital.

3. Narkoba dan Obat-obatan Terlarang

Perdagangan narkoba secara anonim menjadi salah satu aktivitas utama di marketplace dark web. Barang yang diperjualbelikan mencakup ganja, kokain, ekstasi, heroin, serta obat resep seperti Xanax atau Adderall tanpa persyaratan medis. Transaksi memakai kripto dan pengiriman dikemas tersamar, sehingga sangat sulit dilacak aparat hukum.

4. Senjata dan Amunisi

Dark web juga menjadi tempat peredaran senjata api ilegal, termasuk pistol, senapan serbu, bahan peledak, dan senjata rakitan tanpa nomor seri (ghost guns). Transaksi senjata dilakukan sangat rahasia. Meski volumenya tidak sebanyak narkoba, pasar senjata di dark web tetap menjadi ancaman serius karena bisa dipakai untuk tindakan kriminal tanpa jejak hukum yang jelas.

5. Software Berbahaya dan Malware

Beragam malware dijual bebas di dark web, mulai dari ransomware yang mengenkripsi data korban, spyware untuk memantau aktivitas, hingga trojan dan keylogger yang mencuri informasi sensitif. Tersedia pula layanan manajemen serangan seperti penyewaan akses ke command & control center, sehingga serangan siber dapat dilakukan bahkan oleh orang dengan kemampuan teknis minim. Banyak pelaku menguji muatan ini memakai kerangka kerja umum seperti Metasploit yang kerap dipakai hacker sebelum melepasnya ke pasar.

6. Dokumen Palsu

Paspor, SIM, ijazah, hingga visa palsu banyak dijual di dark web untuk berbagai keperluan ilegal, mulai dari imigrasi gelap sampai melamar kerja dengan identitas palsu. Penjual biasanya menawarkan dokumen yang tampak meyakinkan, lengkap dengan stempel dan hologram, dan sering melayani pemalsuan sesuai permintaan negara tertentu.

7. Layanan Ilegal

Selain barang, dark web menawarkan jasa ilegal seperti peretasan akun media sosial, DDoS-as-a-Service untuk melumpuhkan situs target, hingga iklan jasa pembunuh bayaran. Khusus yang terakhir, sebagian besar terbukti hanya penipuan. Banyak layanan ini ditawarkan lewat forum terstruktur layaknya marketplace profesional dengan sistem rating dan ulasan.

8. Akses ke Database dan Sistem Jaringan

Penjual di dark web menawarkan akses ke database internal perusahaan, kampus, maupun institusi pemerintahan. Akses ini biasanya hasil peretasan atau dijual oleh insider yang memiliki hak akses internal. Informasinya bisa mencakup data pelanggan, karyawan, transaksi internal, hingga informasi sensitif yang dipakai untuk pemerasan atau dijual ulang.

9. Kripto Curian dan Akun Keuangan Digital

Akun bursa kripto dan dompet digital yang telah diretas menjadi kategori yang berkembang pesat. Comparitech mencatat akun bursa terverifikasi seperti Coinbase dijual sekitar USD 120 hingga USD 250, dan akun tertentu pernah dillisting jauh lebih tinggi. Akun ini menarik bagi pelaku karena saldo dapat langsung dipindahkan dan jejaknya sulit dibalik.

Fakta vs Mitos: Apa yang Sebenarnya Ada di Dark Web?

Banyak persepsi tentang dark web berasal dari film dan cerita viral, bukan kenyataan. Mitos paling populer adalah “Red Room”, yaitu siaran langsung penyiksaan berbayar. Klaim ini telah berulang kali terbukti sebagai legenda urban dan penipuan, sebagaimana dijelaskan dalam entri Dark web di Wikipedia. Faktanya, sebagian besar aktivitas komersial dark web berkutat pada data curian, kredensial keuangan, dan malware, bukan tontonan ekstrem. Memisahkan fakta dari mitos penting agar kewaspadaan diarahkan ke ancaman yang benar-benar nyata, terutama kebocoran data.

Siapa yang Menggunakan Dark Web dan Untuk Apa?

Dark web tidak hanya digunakan pelaku kejahatan seperti yang sering dibayangkan. Banyak pihak memanfaatkannya untuk alasan yang sah dan legal, meski lingkungannya rentan disalahgunakan. Penggunaannya bergantung pada niat: dari yang ingin melindungi privasi hingga yang berniat melanggar hukum. Berikut tiga kelompok utama penggunanya.

Pengguna Sah

Tidak semua yang mengakses dark web adalah pelaku kejahatan. Banyak jurnalis, aktivis hak asasi manusia, dan whistleblower memakainya untuk berbagi informasi sensitif secara anonim, terutama di negara dengan sensor ketat atau pengawasan terhadap kebebasan berekspresi. Mereka menghindari pelacakan, menjaga keselamatan pribadi, dan membuka ruang komunikasi rahasia. Dalam konteks ini, dark web berperan sebagai alat pelindung kebebasan sipil.

Pengguna Jahat

Lingkungan anonim dan tidak terregulasi juga menjadikan dark web tempat favorit bagi pelaku kriminal. Pengedar narkoba, penjual data curian, penipu online, hingga peretas profesional beroperasi tanpa takut terdeteksi. Mereka menjual barang ilegal, menawarkan jasa siber berbahaya, dan membangun forum serta marketplace rahasia. Inilah alasan utama dark web mendapat reputasi negatif.

Penegak Hukum dan Intelijen

Meski tersembunyi, dark web bukan wilayah yang benar-benar tak tersentuh. Banyak lembaga penegak hukum dan badan intelijen di seluruh dunia aktif memantau aktivitas di sana untuk mengungkap kejahatan siber, melacak sindikat internasional, dan mengidentifikasi ancaman keamanan nasional. Mereka menyusup ke forum gelap, memetakan jaringan pelaku, hingga menjalankan operasi terselubung. Peran ini krusial agar dark web tidak menjadi “zona bebas hukum”.

Cara Transaksi di Dark Web

Transaksi di dark web hampir seluruhnya memakai mata uang kripto karena menawarkan anonimitas dan tidak terikat sistem keuangan tradisional. Bitcoin paling populer, tetapi seiring meningkatnya kemampuan otoritas melacak transaksi Bitcoin, muncul kripto seperti Monero dan Zcash dengan fitur privasi lebih kuat. Dengan kripto, penjual dan pembeli bertransaksi tanpa mengungkap identitas asli, sehingga cocok untuk aktivitas ilegal seperti jual beli narkoba, data curian, dan jasa peretasan.

Penggunaan kripto di dark web tetap berisiko. Karena tidak terikat otoritas resmi, banyak pengguna menjadi korban penipuan, baik scam maupun malware yang tersembunyi di balik tautan palsu. Tidak sedikit kasus pembeli sudah membayar tetapi barang tidak pernah dikirim. Dompet digital pun bisa menjadi target peretasan, membuat pengguna kehilangan dana tanpa pemulihan. Anonimitas memang daya tarik utamanya, dan di situ pula letak kerentanannya.

Apakah Dark Web Selalu Ilegal?

Secara hukum, mengakses dark web tidak otomatis ilegal. Banyak orang memakainya untuk alasan sah, seperti melindungi kebebasan berekspresi, menghindari sensor, atau menjaga privasi di negara dengan pengawasan ketat. Selama aktivitasnya tidak melanggar hukum, pengguna tidak dikenakan sanksi. Dark web hanyalah bagian dari infrastruktur internet yang menawarkan anonimitas, dan seperti teknologi lain, bisa dipakai untuk kebaikan maupun kejahatan.

Namun karena minimnya regulasi dan sulitnya pelacakan, dark web menjadi ladang subur aktivitas ilegal seperti jual beli narkoba, senjata, data curian, dan jasa peretasan. Banyak kasus besar membuktikan hukum tetap berlaku di sini. Penutupan marketplace seperti Silk Road, AlphaBay, dan Wall Street Market menghasilkan ratusan penangkapan di berbagai negara. Pengguna yang terlibat kegiatan ilegal tetap bisa dilacak dan dihukum.

Cara Melindungi Diri dari Ancaman Dark Web

Ancaman dark web bisa berdampak langsung pada individu maupun organisasi, terutama ketika data pribadi atau akun penting jatuh ke tangan yang salah. Karena itu, ambil langkah pencegahan konkret agar tetap aman dari kebocoran data dan kejahatan siber yang berawal dari dark web. Berikut beberapa cara efektif yang bisa Anda lakukan.

  1. Gunakan Layanan Pemantauan Identitas

    Layanan pemantauan identitas membantu Anda mendeteksi lebih cepat jika data pribadi seperti nomor KTP, alamat email, atau akun keuangan muncul di dark web. Dengan notifikasi dini, Anda bisa segera mengambil langkah mitigasi sebelum kerugian membesar.
  2. Rutin Mengganti Kata Sandi

    Mengganti kata sandi secara berkala, terutama pada akun email dan perbankan, mengurangi risiko akses tidak sah jika data Anda pernah bocor atau dijual di dark web. Gunakan kombinasi karakter yang kuat dan berbeda untuk setiap akun.
  3. Waspadai Serangan Phishing

    Serangan phishing sering menjadi pintu masuk pencurian data yang akhirnya dijual di dark web. Selalu periksa alamat email, tautan, dan lampiran mencurigakan sebelum diklik. Jangan mudah percaya pesan yang mendesak Anda memberikan informasi pribadi.
  4. Hindari Berbagi Informasi Sensitif Sembarangan

    Semakin banyak informasi pribadi yang Anda bagikan online, semakin besar peluang data tersebut disalahgunakan. Batasi pembagian data seperti alamat rumah, tanggal lahir, atau nomor identitas di media sosial dan situs yang tidak terpercaya.
  5. Periksa Apakah Data Anda Telah Bocor

    Lakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui apakah data pribadi Anda sudah tersebar di dark web. Pantau juga aktivitas rekening bank dan pertimbangkan membekukan akses sementara bila ada tanda penyalahgunaan. Langkah ini mencegah pembukaan akun atau transaksi atas nama Anda tanpa izin.

Baca juga: Dark Web Monitoring: Cara Efektif Mendeteksi Ancaman Siber

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa saja yang dijual di dark web?

Dark web menjual data pribadi (paket fullz), kredensial bank dan kartu kredit ber-CVV, narkoba, senjata, malware, dokumen palsu, jasa peretasan, dan akses ke database perusahaan. Komoditas paling laris adalah data pribadi karena bisa langsung dipakai untuk penipuan identitas.

Berapa harga data curian di dark web?

Menurut Dark Web Price Index dari Comparitech, kartu kredit dengan CVV dijual sekitar USD 10 hingga USD 40, paket identitas lengkap (fullz) USD 20 hingga USD 100, dan kredensial akun bank bersaldo tinggi bisa di atas USD 1.000.

Apakah mengakses dark web ilegal?

Mengakses dark web tidak otomatis ilegal. Yang menentukan adalah aktivitasnya. Jurnalis dan aktivis memakainya secara sah untuk anonimitas, tetapi jual beli narkoba, data curian, atau senjata di dalamnya tetap melanggar hukum.

Apa risiko masuk dark web?

Risikonya mencakup terinfeksi malware dan ransomware, menjadi korban penipuan kripto, terpapar konten ilegal, serta jejak hukum jika tanpa sengaja mengakses atau membeli barang terlarang.

Kesimpulan

Dari data pribadi, kartu kredit ber-CVV, sampai jasa peretasan dan dokumen palsu, dark web menyimpan aktivitas berisiko tinggi dengan harga yang sering mengejutkan. Meski tidak seluruhnya ilegal, sisi gelap internet ini menuntut kewaspadaan ekstra. Langkah pertama yang paling konkret adalah memeriksa apakah data Anda sudah bocor dan mengaktifkan pemantauan dark web, sehingga Anda bisa bertindak sebelum kredensial Anda dijual.

Baca juga

Pantau apakah data Anda bocor dan diperjualbelikan di dark web.

Nur Rachmi Latifa

Nur Rachmi Latifa, Digital Marketing di SiberMate, menulis seputar keamanan siber, privasi data, dan manajemen risiko siber manusia. Fokusnya menerjemahkan topik teknis—dari UU PDP sampai simulasi phishing—jadi panduan praktis yang bisa langsung dipakai tim non-teknis.

WhatsApp Icon Mira