<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=2253229985023706&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

back to HRMI

Cara Mengukur Tingkat Security Awareness Karyawan Secara Objektif

Read Time 8 mins | 04 Jun 2026 | Written by: Nur Rachmi Latifa

Security Awareness

Di tengah meningkatnya ancaman siber, organisasi mulai menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup untuk melindungi bisnis karena faktor manusia masih menjadi salah satu titik paling rentan dalam keamanan siber. Meski banyak perusahaan sudah menjalankan pelatihan, simulasi phishing, dan edukasi keamanan, tanpa pengukuran yang objektif sulit mengetahui apakah program tersebut benar-benar efektif. Karena itu, pendekatan maturity assessment seperti HRM Maturity Quick Assessment dari SiberMate menjadi penting untuk membantu organisasi mengukur tingkat kematangan program security awareness karyawan secara lebih terstruktur, terukur, dan berbasis human risk.

Mengapa Security Awareness Karyawan Perlu Diukur?

Banyak organisasi masih mengukur keberhasilan program security awareness karyawan hanya berdasarkan jumlah peserta training, persentase kelulusan kuis, jumlah modul yang telah diselesaikan, atau tingkat kehadiran dalam webinar dan sosialisasi keamanan siber. Padahal, indikator tersebut belum tentu menunjukkan bahwa karyawan benar-benar memahami risiko siber dan mampu menerapkan perilaku aman dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Dalam praktiknya, tidak sedikit karyawan yang mampu menyelesaikan pelatihan dengan nilai tinggi tetapi tetap mudah tertipu email phishing atau serangan social engineering. Ada juga peserta training yang memahami teori keamanan siber, namun masih ragu atau bahkan tidak melaporkan aktivitas mencurigakan yang mereka temui. Kondisi ini membuat banyak organisasi merasa sudah memiliki program awareness yang baik, padahal budaya keamanan siber di internal perusahaan masih belum terbentuk secara kuat.

Karena itu, pengukuran security awareness karyawan perlu dilakukan secara lebih objektif dan berbasis indikator perilaku nyata, bukan sekadar formalitas pelatihan. Tujuan utamanya bukan hanya memastikan karyawan “tahu” tentang keamanan siber, tetapi juga memastikan mereka memiliki perilaku yang lebih aman, mampu merespons ancaman dengan tepat, memahami risiko digital yang terus berkembang, serta menjadi bagian aktif dalam membangun budaya keamanan perusahaan yang berkelanjutan.

Baca juga: Pentingnya Mengukur Security Awareness di Lingkungan Kerja

Apa Itu HRM Maturity Assessment?

HRM Maturity Assessment dari SiberMate adalah alat penilaian yang dirancang untuk membantu organisasi memetakan tingkat kematangan program security awareness secara lebih objektif dan terukur. Assessment ini menggunakan pendekatan berbasis human risk untuk melihat sejauh mana perusahaan mampu membangun budaya keamanan siber yang efektif di lingkungan kerja. Melalui assessment ini, perusahaan dapat memahami beberapa hal penting seperti:

  • Posisi maturity program awareness saat ini
  • Efektivitas program yang sudah berjalan
  • Celah atau kelemahan yang masih perlu diperbaiki
  • Langkah strategis untuk meningkatkan maturity level berikutnya

Pendekatan ini penting karena setiap organisasi memiliki tingkat kesiapan keamanan yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang masih berada pada tahap awal awareness, namun ada juga organisasi yang sudah berhasil menjadikan keamanan siber sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari.

Dengan HRM Maturity Assessment dari SiberMate, organisasi dapat memperoleh ukuran yang lebih objektif untuk mengevaluasi efektivitas program awareness, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau persepsi internal semata.

5 Level Maturity Security Awareness

Dalam pendekatan HRM Maturity Assessment dari SiberMate, tingkat kematangan program security awareness dibagi menjadi lima level utama. Setiap level menggambarkan sejauh mana organisasi mampu membangun budaya keamanan siber, mengelola human risk, serta memastikan karyawan memiliki perilaku keamanan yang konsisten dalam aktivitas sehari-hari.

Level 1 – Unaware

Pada tahap ini, organisasi umumnya belum memiliki program security awareness yang jelas dan terstruktur. Kesadaran keamanan siber masih sangat rendah, baik dari sisi manajemen maupun karyawan, sehingga risiko human error biasanya berada pada tingkat yang cukup tinggi. Ciri-cirinya meliputi:

  • Tidak ada pelatihan keamanan siber yang dilakukan secara rutin
  • Karyawan masih minim pemahaman terkait ancaman digital
  • Awareness biasanya hanya dilakukan setelah terjadi insiden
  • Belum terbentuk budaya pelaporan ancaman atau aktivitas mencurigakan

Pada level ini, organisasi sangat rentan terhadap serangan phishing, social engineering, dan berbagai ancaman yang memanfaatkan kelalaian manusia karena belum adanya budaya keamanan yang kuat.

Level 2 – Compliance-Driven

Di tahap ini, organisasi mulai menjalankan program awareness karena adanya kebutuhan kepatuhan, audit, atau tuntutan regulasi tertentu. Program sudah mulai berjalan, tetapi fokus utamanya masih sebatas memenuhi formalitas compliance, bukan membangun perubahan perilaku keamanan yang nyata. Beberapa karakteristik pada level ini antara lain:

  • Training keamanan siber biasanya dilakukan setahun sekali
  • Program awareness lebih berfokus pada pemenuhan audit atau regulasi
  • Materi pelatihan belum terlalu relevan dengan ancaman aktual
  • Tingkat keterlibatan dan partisipasi karyawan masih relatif rendah

Meskipun awareness sudah mulai diterapkan, efektivitasnya biasanya masih terbatas karena belum terintegrasi dengan budaya kerja dan aktivitas harian karyawan.

Level 3 – Structured

Pada level ini, organisasi mulai memiliki pendekatan awareness yang lebih terstruktur dan konsisten. Program tidak lagi bersifat insidental, tetapi mulai dirancang sebagai bagian dari strategi keamanan perusahaan secara berkelanjutan. Ciri-ciri organisasi pada tahap ini meliputi:

  • Sudah memiliki kalender awareness rutin
  • Simulasi phishing mulai dilakukan secara berkala
  • Materi awareness lebih relevan dengan ancaman siber terkini
  • Tingkat pelaporan insiden mulai meningkat dari sebelumnya

Di tahap ini, organisasi mulai memahami bahwa security awareness bukan hanya kewajiban compliance, tetapi juga bagian penting dalam mitigasi risiko keamanan siber jangka panjang.

Level 4 – Risk-Responsive

Pada tahap ini, program awareness mulai dibangun menggunakan pendekatan berbasis human risk atau risiko manusia. Organisasi tidak hanya menjalankan edukasi umum, tetapi mulai menggunakan data dan perilaku pengguna untuk menentukan strategi awareness yang lebih efektif dan tepat sasaran. Karakteristik level ini biasanya meliputi:

  • Organisasi menggunakan data untuk menentukan strategi awareness
  • Mulai memetakan kelompok pengguna dengan risiko tinggi
  • Materi pelatihan disesuaikan berdasarkan perilaku pengguna
  • Efektivitas program awareness diukur secara berkala dan lebih objektif

Pada level ini, awareness mulai menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan risiko organisasi sehingga perusahaan dapat lebih proaktif dalam mengurangi potensi insiden siber.

Level 5 – Culture-Embedded

Level ini merupakan tahap maturity paling tinggi, di mana keamanan siber sudah benar-benar menjadi bagian dari budaya organisasi. Awareness tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab tim IT atau security, tetapi sudah tertanam dalam pola pikir dan aktivitas sehari-hari seluruh karyawan. Beberapa ciri utama pada tahap ini antara lain:

  • Karyawan proaktif melaporkan ancaman dan aktivitas mencurigakan
  • Awareness menjadi bagian dari aktivitas kerja harian
  • Manajemen aktif mendukung budaya keamanan siber
  • Human risk mulai dijadikan indikator strategis organisasi

Pada tahap ini, organisasi biasanya memiliki budaya keamanan yang jauh lebih kuat, responsif terhadap ancaman, dan mampu membangun ketahanan siber secara berkelanjutan di seluruh level perusahaan.

Indikator Objektif dalam Mengukur Security Awareness Karyawan

Agar pengukuran security awareness karyawan benar-benar akurat, organisasi perlu menggunakan indikator yang relevan, terukur, dan mampu menggambarkan perilaku nyata pengguna dalam menghadapi ancaman siber. Pengukuran tidak cukup hanya berdasarkan tingkat partisipasi training atau hasil kuis, tetapi juga harus melihat bagaimana karyawan merespons risiko keamanan dalam aktivitas sehari-hari.

1. Tingkat Keberhasilan Simulasi Phishing

Simulasi phishing menjadi salah satu metode paling efektif untuk mengukur tingkat kewaspadaan dan perilaku nyata pengguna terhadap ancaman siber. Melalui simulasi ini, organisasi dapat melihat seberapa mudah karyawan terpengaruh oleh teknik social engineering yang umum digunakan penyerang. Beberapa indikator yang dapat diukur antara lain:

  • Persentase klik email phishing
  • Persentase credential submission
  • Jumlah laporan email mencurigakan
  • Waktu respons pengguna terhadap simulasi

Data dari simulasi phishing biasanya jauh lebih objektif dibanding hanya mengandalkan hasil kuis atau pelatihan teoritis karena mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

2. Tingkat Pelaporan Insiden

Budaya keamanan siber yang baik biasanya ditandai dengan meningkatnya kesadaran karyawan untuk melaporkan ancaman atau aktivitas mencurigakan. Semakin aktif karyawan melaporkan potensi risiko, semakin baik pula tingkat awareness dalam organisasi tersebut. Contoh indikator yang umum digunakan meliputi:

  • Jumlah laporan phishing atau email mencurigakan
  • Laporan perangkat hilang atau dicurigai terkompromi
  • Pelaporan aktivitas tidak biasa di lingkungan kerja
  • Kecepatan eskalasi insiden kepada tim terkait

Semakin cepat dan konsisten pelaporan dilakukan, semakin menunjukkan bahwa budaya keamanan mulai terbentuk secara lebih matang di organisasi.

3. Konsistensi Program Awareness

Program awareness yang efektif tidak bersifat musiman atau hanya dilakukan ketika audit berlangsung. Organisasi perlu memastikan bahwa edukasi keamanan siber dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar perilaku aman dapat terbentuk dalam jangka panjang. Beberapa hal yang dapat diukur meliputi:

  • Frekuensi training keamanan siber
  • Konsistensi campaign awareness
  • Variasi metode edukasi yang digunakan
  • Relevansi materi dengan ancaman siber terkini

Awareness yang dilakukan secara rutin biasanya jauh lebih efektif dalam membangun budaya keamanan dibanding program yang hanya bersifat formalitas compliance.

4. Perubahan Perilaku Karyawan

Tujuan utama dari program awareness bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku keamanan yang nyata. Karena itu, organisasi perlu mengukur apakah edukasi yang diberikan benar-benar memengaruhi kebiasaan dan tindakan karyawan. Beberapa indikator perilaku yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Apakah tingkat klik phishing mengalami penurunan?
  • Apakah penggunaan password menjadi lebih aman?
  • Apakah penggunaan MFA meningkat?
  • Apakah karyawan lebih berhati-hati terhadap social engineering?

Pengukuran berbasis perilaku seperti ini biasanya jauh lebih akurat dibanding sekadar melihat jumlah peserta training atau tingkat kelulusan kuis.

5. Dukungan Manajemen

Budaya keamanan siber tidak akan terbentuk secara optimal tanpa dukungan aktif dari manajemen dan pimpinan organisasi. Ketika leadership terlibat langsung dalam program awareness, tingkat partisipasi dan kepedulian karyawan biasanya akan meningkat secara signifikan. Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:

  • Keterlibatan leadership dalam campaign awareness
  • Adanya kebijakan keamanan yang aktif diterapkan
  • Awareness menjadi bagian dari KPI organisasi
  • Dukungan anggaran dan strategi dari manajemen

Semakin besar dukungan dari pimpinan perusahaan, semakin besar pula peluang organisasi untuk membangun budaya keamanan siber yang kuat dan berkelanjutan.

Mendukung Kepatuhan dan Standar Keamanan

Pengukuran security awareness karyawan juga memiliki peran penting dalam membantu organisasi memenuhi berbagai standar dan regulasi keamanan informasi seperti ISO 27001, UU PDP, dan SKKNI. Saat ini, banyak standar keamanan modern tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko manusia melalui program awareness yang efektif.

Karena itu, organisasi perlu memastikan bahwa program awareness yang dijalankan benar-benar terukur, konsisten, dan mampu menunjukkan perubahan perilaku keamanan karyawan. Melalui pendekatan maturity assessment, perusahaan dapat mengevaluasi efektivitas program awareness, mendukung kebutuhan audit dan compliance, serta membangun strategi peningkatan keamanan siber yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Manfaat Assessment Security Awareness Secara Objektif

Melakukan assessment maturity awareness memberikan banyak manfaat strategis bagi organisasi. Beberapa manfaat utamanya:

  1. Memberikan ukuran objektif efektivitas program awareness
  2. Mengidentifikasi celah keamanan berbasis manusia
  3. Membantu menyusun roadmap peningkatan maturity
  4. Mendukung compliance dan audit
  5. Mengurangi risiko human error
  6. Memperkuat budaya keamanan jangka panjang

Selain itu, organisasi juga dapat lebih mudah menentukan prioritas perbaikan berdasarkan data nyata, bukan asumsi.

Baca juga: Mengintegrasikan Awareness Training ke Strategi Keamanan Siber

Kesimpulan

Mengukur security awareness karyawan secara objektif kini menjadi kebutuhan penting dalam strategi keamanan siber modern karena tanpa pengukuran yang tepat, organisasi hanya akan berasumsi bahwa program awareness mereka sudah efektif meski risiko human error masih tinggi. Melalui pendekatan seperti HRM Maturity Quick Assessment dari SiberMate, perusahaan dapat memahami tingkat kematangan awareness saat ini, mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, serta membangun roadmap berbasis Human Risk Management untuk menciptakan budaya keamanan siber yang lebih matang, terukur, dan berkelanjutan.

Satu Solusi Kelola Keamanan Siber Karyawan Secara Simple & Otomatis

Nur Rachmi Latifa

Penulis yang berfokus memproduksi konten seputar Cybersecurity, Privacy dan Human Cyber Risk Management.

WhatsApp Icon Mira